Kontradiktif, Perempuan Ini Mengaku Feminis dan Bekerja sebagai Gadis Hooters

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Menjadi seorang feminis bukan sesuatu yang eksklusif. Walaupun begitu, Ashley Jordan selalu melakukan studi tentang beberapa kontradiksi, yang mungkin bisa menjelaskan bagaimana seorang feminis seperti dirinya bisa menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja menjadi pelayan di sebuah tempat yang dicap negatif.

Di tahun 2003, saat Ashley berusia 19 tahun, ia sudah muak dengan seksisme. Catcall di jalan sudah seperti rutinitasnya, begitu juga komentar sugestif dari teman kuliah pria.

Bekerja di Hooters tiba-tiba tampak seperti cara subversif untuk menghasilkan uang dari seksisme yang membuat Ashley muak. Setidaknya para pria di sana harus membayarnya untuk tersenyum.

Mereka langsung mempekerjakan Ashley. Pertama kalinya ia mengenakan tank top, pof oranye, dan pantyhose cokelat, Ashley merasa tidak nyaman, karena lebih banyak bagian tubuhnya yang terlihat daripada biasanya.

Ashley memang cukup berani untuk melamar pekerjaan di Hooters, namun ia tidak terlalu percaya diri dengan penampilannya sendiri. Ia merasa canggung dan gugup karena begitu banyak dari dirinya dipamerkan untuk konsumsi publik.

Ashley selalu membenci pantyhouse, namun tiba-tiba, benda itu menjadi penyelamat. Pantyhouse memberinya kesan ilusi cakupan di bawah celananya, membuat kakinya terasa kurang telanjang dan seragamnya menjadi lebih tertahankan.

"Apakah Ashley nama aslimu?" tanya seorang pelanggan. Di Hooters, nama Ashley sama, namun ia adalah siapapun, kecuali dirinya sendiri.

Saat ia berjalan ke lantai restoran, ia berubah dari seorang mahasiswa kutu buku, introver yang masuk ke sekolah hukum, menjadi orang asing yang ramah, bouncy, mudah tersenyum, dan fokus utamanya adalah menyenangkan pelanggan. Dan terkadang, Ashley merasa hal itu menyenangkan.

Ia berteman dengan rekan kerjanya dan meraka adalah bagian dari klub eksklusif, serta kerja keraslah yang menyatukan mereka. Melayani pelanggan dan menuangkan bir tidak membutuhkan ilmu yang sulit, namun itu adalah pekerjaan yang paling melibatkan fisik, yang pernah dilakukan oleh Ashley.

Pada akhir pekan dan hari libur, restoran itu penuh, yang berarti pramusaji akan berjalan selama 7 jam berturut-turut. Bekerja dengan shift ganda sangat jarang terjadi pada Ashley, namun rekan kerjanya secara teratur bekerja 12 sampai 14 jam karena kebutuhan.

Banyak dari mereka adalah ibu tunggal yang untuk mereka Hooters bukanlah pekerjaan sampingan di perguruan tinggi, seperti bagi Ashley. Jujur, kerja keraslah yang membayar tagihan mereka.

Pengalaman Ashley selama bekerja sebagai gadis Hooters dengan para pelanggan

Ashley Jordan muak dengan perlakuan seksime yang diterimanya selama ini, ia ingin membuktikan bahwa menjadi feminis bukan sesuatu yang eksklusif dengan bekerja sebagai gadis Hooters.. Sumber foto: unsplash.com/Kate Townsend.
Ashley Jordan muak dengan perlakuan seksime yang diterimanya selama ini, ia ingin membuktikan bahwa menjadi feminis bukan sesuatu yang eksklusif dengan bekerja sebagai gadis Hooters.. Sumber foto: unsplash.com/Kate Townsend.

Saat Ashley khawatir tentang mendapatkan tip bagus untuk dihabiskan bersama teman-temannya pada Jumat malam, yang lain khawatir tentang kelangsungan hidup, menyewakan dan memberi makan anak-anak mereka.

Rekan kerjanya dan Ashley menjadi rekan karena rasa frustasi mereka dengan para pelanggan tetap. Mereka memberi julukan kepada satu orang biasa "Yesus" karena ia menginjili di sela-sela meminum Arnold Palmers.

Para pelanggan tetap tampaknya memilih favorit mereka berdasarkan pelayan mana yang menurut mereka paling menarik dan memberi mereka perhatian, serta tip paling banyak. Seberapa banyak perhatian yang didapat seorang pelayan biasanya bertepatan dengan siapa yang bersedia menghabiskan banyak waktu dan energi untuk bicara dengan pelanggan.

Karena obrolan ringan tidak pernah menjadi keahlian Ashley, ia tidak memiliki banyak pelanggan tetap. Ia senang bersikap baik dan sopan kepada pelanggannya, namun hubungannya dengan mereka sangat transaksional, apapun di luar itu terasa palsu dan dipaksakan.

Ashley merasa tidak mungkin berteman dengan pelanggan karena ketidakseimbangan kekuatan yang nyata, fakta bahwa beberapa di antara mereka ada yang merasa unggul, seolah Hooters adalah tempat perlindungan misoginis di mana mereka tidak lagi harus berpura-pura menghormati perempuan. Cara mereka menatap Ashley dari bangku, menyaringnya menjadi objek tatapan pria dan menilai, membuatnya merasa seperti berada di bawah pengawasan fisik yang hampir konstan.

Berada di restoran memberdayakan mereka untuk menatap Ashley, membagikan rayuan seksual tanpa alasan, dan menimbang dengan penilaian yang tidak diminta atas penampilan dan kecerdasanku. Ashley pernah diminta menunggu di meja yang terdiri dari 4 pria.

Saat Ashley membersihkan meja mereka, salah satu dari pria tersebut memegang tangannya dan berkata sambil menyeringai, "Kami punya pertanyaan tentang tagihan kami, tapi saya ragu kamu bisa menangani matematika dasar."

Kata-kata itu tidak memukul Ashley sekeras tatapannya yang tidak berperasaan. Cara dia melihat ke dalam diri Ashley saat ia menyampaikan kalimat tersebut membuatnya jelas bahwa itu bukanlah lelucon yang bodoh atau komentar sembarangan, ia bermaksud untuk menyakiti dan merendahkannya.

Tapi jika pria itu berharap bisa membuat Ashley sedih, ia gagal. Semua yang timbul ke permukaan justru amarah.

Kemarahan tidak akan membawanya kemanapun. Ia tidak dapat berbicara tentang pekerjaan karena hampir tidak ada yang tahu tentangnya, itu adalah rahasia kotornya, yang terasa lebih mudah disembunyikan daripada diungkapkan.

Ashley Jordan akhirnya memutuskan untuk jujur tentang pekerjaannya sebagai gadis Hooters di masa lalu

Ashley Jordan muak dengan perlakuan seksime yang diterimanya selama ini, ia ingin membuktikan bahwa menjadi feminis bukan sesuatu yang eksklusif dengan bekerja sebagai gadis Hooters.. Sumber foto: unsplash.com/Sasha.
Ashley Jordan muak dengan perlakuan seksime yang diterimanya selama ini, ia ingin membuktikan bahwa menjadi feminis bukan sesuatu yang eksklusif dengan bekerja sebagai gadis Hooters.. Sumber foto: unsplash.com/Sasha.

Ashley pikir jika ia jujur tentang tempatnya bekerja, orang akan menyebutnya sebagai pelacur, perempuan yang tidak cerdas, tidak bermoral, anti feminis, dan lainnya, namun ia tahu ia bukan orang seperti itu, begitu juga semua rekan kerjanya. Karena ia tidak bisa membicarakan pekerjaannya dengan banyak orang, ia menyalurkan rasa marah dan frustasinya atas para pelanggan ke dalam studinya.

Ia mengambil kelas yang dapat ia temukan tentang perempuan dan jenis kelamin, menggunakan tugas untuk mengeksplorasi masalah feminis kapanpun memungkinkan. Untuk menyelesaikan program di perguruan tinggi, Ashley harus menulis tesis dan sebagian besar proyek selama setahun itu disusun di dalam Hooters.

Ia menunggu dari tahun kedua kuliah sampai lulus, 1 hingga 2 shift per minggu memungkinkannya menghasilkan lebih banyak uang daripada yang ia butuhkan dan menyisakan banyak waktu untuk fokus pada nilai. Saat keluar dari Hooters, ia lulus dengan sangat baik dan mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah hukum.

Lima belas tahun sejak terakhir kali ia menyajikan makanan dan biru kepada orang asing, kebanyakan orang tidak tahu bahwa sebelum ia menjadi pengacara, penulis, dan aktivis feminis, Ashley adalah gadis Hooters. Beberapa tahun lalu, Ashley menonton wawancara Jimmy Fallon dengan ikon feminis Gloria Steinem.

Gloria menjelaskan bagaimana para pengkritiknya menggunakan keputusannya untuk menyamar sebagai kelinci playboy untuk menulis eksposur jurnalistik sebagai cara untuk mengurangi dan mendiskreditkan dirinya. Setelah menunjukkan bahwa ia sebenarnya bukan kelinci, ia menambahkan bahwa ia tidak akan menolak perempuan yang bekerja bersamanya di Playboy Club.

Menurut Ashley sendiri, masalahnya bukan pada pelayan dengan tank top dan pof oranye, tidak ada yang secara inheren profan tentang melihat tubuh perempuan di manapun atau dalam konteks apapun. Masalahnya adalah sistem patriarki yang kurang menghargai dan menghormati perempuan, bukan hanya tubuh mereka, namun juga pikiran dan jiwa.

Tidak masalah apa yang perempuan lakukan, seberapa banyak mereka berubah bentuk untuk berhasil atau apakah mereka menyembunyikan setiap inci dari bentuk fisik mereka sehingga orang lain tidak akan menjadikan mereka objek seksual. Ini tidak akan pernah berubah dan membutuhkan lebih banyak visi, keberanian, serta kerja keras daripada menyalahkan perempuan, tubuh, dan pekerjaan mereka.

Ashley bukan Gloria Steinem dan pengalamannya sebagai gadis Hooters tidak sejalan dengan pengalamannya sebagai kelinci playboy. Tapi setidaknya, Ashley adalah setiap perempuan yang pernah bekerja di industri di mana tubuhnya dieksploitasi untuk keuntungan.

#Elevate Women