Kopda Muslimin Diduga sudah Lama Berencana Bunuh Istri, Pakai Racun hingga Santet

Merdeka.com - Merdeka.com - Sugiono alias Babi, salah satu tersangka penembakan Rina Wilandari yang merupakan istri dari anggota TNI Kopda Muslimin, mengaku sempat beberapa kali diperintahkan untuk melakukan perencanaan pembunuhan kepada korban.

"Suami korban telah memerintahkan saudara Babi tidak hanya melakukan penembakan. Satu bulan yang lalu, dia memerintahkan babi untuk meracun istrinya, mencuri. Jadi pura-pura mencuri, targetnya istrinya mati. Kemudian ketiga dia menggunakan santet," kata kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng) Irjen Pol Ahmad Luthfi di Semarang, Senin (25).

Terkait informasi ini, polisi akan mengkonfirmasinya ketika nanti Muslimin sudah berhasil diringkus.

Sementara terkait perencanaan penembakan, senjata api sebelumnya sudah disiapkan oleh Muslimin. Para pelaku juga sempat melakukan rapat pematangan aksi.

"Jadi mbelani pacare (membela pacarnya), disantet, diracun, pura-pura maling yang akan bunuh (korban) dan terakhir ditembak," pungkas Luthfi.

Sebelumnya diberitakan, Rina menjadi korban penembakan di Jalan Cemara, Banyumanik Semarang. Seusai korban keluar rumah, para pelaku sempat membuntuti korban. Saat korban sampai di rumah, pelaku langsung menembak korban.

Motif Muslimin diduga karena memiliki pacar lagi. Dari pengungkapan kasus ini, lima tersangka termasuk penyedia senjata api berhasil diringkus tim gabungan TNI Polri.

"Motifnya punya pacar lagi. jadi ada delapan saksi yang kita periksa, di antaranya saksi W, itu pacarnya," terang Luthfi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan W, dia juga dikabarkan sempat diajak kabur oleh Muslimin setelah peristiwa penembakan terjadi. Namun W menolak ajakan tersebut.

"Itu pacarnya, W sudah kita lakukan pengamanan. Bahwa yang bersangkutan lari setelah kegiatan ini, tetapi pacarnya tidak mau," lanjutnya.

Lima tersangka yang diringkus adalah Sugiono alias Babi, Ponco Aji Nugroho. Keduanya merupakan eksekutor. Kemudian Supriono, Agus Santoso sebagai pengawas.

"Jadi yang tim eksekutor yang menggunakan kendaraan Ninja. Tim pengawas menggunakan Honda Beat," terangnya.

Sedangkan sebagai penyedia senjata api adalah Dwi Sulistiono. Muslimin membeli senjata api seharga Rp3 juta.

Sementara Muslimin masih buron. Para pelaku dijanjikan imbalan Rp120 juta oleh otak pelaku. "Jadi usai melakukan penembakan, para pelaku langsung ketemu Kopda Muslimin. Di sana mereka dapat upah Rp120 juta dan per orang mendapat bagian Rp24 juta. Ada yang langsung dibelikan motor dan emas. Semuanya barang bukti sudah kita sita," tuturnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel