Kopi Flores yang mendunia lewat Pertemuan Ketiga DEWG G20 Labuan Bajo

Pertemuan Ketiga Kelompok Kerja Ekonomi Digital atau 3rd Digital Economy Working Group (DEWG) Meeting yang berlangsung di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT sejak Rabu dimeriahkan dengan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Berbagai produk dipamerkan, termasuk aneka olahan kopi khas Pulau Flores. Kenikmatan kopi Flores memang telah dikenal oleh para pecinta kopi. Kini, Kopi Flores yang diolah oleh pelaku UMKM menjadi sajian bagi para delegasi yang hadir dalam pertemuan ketiga DEWG G20 tersebut.

Senyum sumringah tampak pada diri Agustinus Suban Puka, pemilik UMKM Florasta Barista Kopi Tuk. Kebanggaan terpancar dari wajahnya karena diberi kesempatan tampil dan memperkenalkan kekayaan tanah Flores itu di hadapan delegasi luar negeri. Dia semakin bahagia saat mengetahui para tamu menyukai aroma dan rasa dari Kopi Tuk racikannya.

Sehari-hari Agustinus berjualan kopi keliling menggunakan sepeda motor roda dua. Dia menyebut wisawatan luar negeri menyukai kopi khas Flores. Mereka sering memuji kekuatan rasa dari Kopi Flores.

"Tadi ada yang masuk ke ruangan dan kembali lagi ke sini. Sepertinya mereka ketagihan," ungkap Agustinus bahagia, Labuan Bajo, Kamis.

Kopi Tuk bukanlah kopi biasa. Dalam sebuah racikan Kopi Tuk terkandung budaya kesederhanaan yang turun temurun dari masyarakat Flores. Meski banyak alat pengolahan kopi modern, kopi tuk tetap diolah secara tradisional dari dulu hingga sekarang.

Pengolahan kopi tuk sangat tradisional. Biji kopi terlebih dahulu disangrai dan ditumbuk hingga halus menggunakan lesung, sebuah alat tradisional untuk menumbuk bahan makanan.

Agustinus berujar, cara tradisional itu yang membuat cita rasa dan aroma kopi tuk berbeda dari kopi lainnya. Dia menyangrai kopi itu hingga kematangannya menghasilkan aroma dan rasa yang pas serta khas. Setelah itu dia menyeduh kopi menggunakan air mendidih.

Dalam acara itu, dia mengatakan para delegasi menyukai kopi jenis Florasta Blend. Kopi jenis itu merupakan perpaduan antara kopi Arabika Bajawa dan Robusta Manggarai. Campuran dua jenis kopi itu pun menghasilkan cita rasa kopi yang tidak terlalu pahit, juga tidak terlalu asam. Bahkan, aroma kopi jenis Florasta Blend sangat disukai oleh penikmat kopi.

Kopi Arabika Bajawa merupakan jenis kopi yang tumbuh di dataran tinggi Flores dengan ketinggian mencapai 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan kopi Robusta Manggarai tumbuh di dataran tinggi sekitar 300 hingga 1.200 mdpl.

Cita rasa Kopi Tuk yang memikat itu dia harapkan bisa menarik minat masyarakat lebih luas. Dia berharap pertemuan internasional itu menjadi ajang bagi dirinya untuk memperkenalkan cita rasa Kopi Flores yang sangat khas hingga ke luar negeri.

Dalam pameran UMKM pada kegiatan internasional itu, Desa Wisata Coal juga menghadirkan Kopi Flores yang khas yakni Kopi Ntala. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Porong, Kopi Ntala coba diperkenalkan kepada para delegasi yang hadir.

Ketua Pokdarwis Bukit Porong Rhony Sumarno menjelaskan, Kopi Ntala dari Bukit Porong memiliki tiga varian yakni Arabika, Robusta, dan Kopi Jahe. Rasa yang khas dari tiga jenis kopi ini membuat Rhony yakin untuk mempromosikan kopi dari Kecamatan Kuwus ini hingga ke ajang internasional.

Baca juga: Kelor "Mutiara Hijau" dari NTT yang mendunia lewat Sherpa G20

Digitalisasi UMKM

Hal yang menarik dari semua produk kopi yang ada dalam pameran UMKM itu yakni penggunaan QR Code untuk melakukan pembayaran non tunai. Rhony berujar pembayaran menggunakan QRIS lebih memudahkan pembeli (tamu) yang tidak membawa uang tunai.

Presidensi G20 Indonesia tentunya menjadi momentum penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital nasional. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun mendorong isu transformasi digital, termasuk digitalisasi UMKM menjadi bagian dari pembahasan Digital Economy Working Group.

UMKM tentu saja menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak pandemi COVID-19. Melalui digitalisasi, diharapkan UMKM dapat tumbuh dan bertahan dari efek yang terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Berbagai cara pun dilakukan oleh Kementerian Kominfo untuk terus memberikan dukungan bagi UMKM. Tentu saja Kementerian Kominfo ingin mendorong UMKM untuk memanfaatkan platform digital melalui UMKM Go Digital.

Dari data Kominfo per Juni, ada 9,2 juta unit UMKM yang mulai on board digital sejak peluncuran program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia pada Mei 2022 lalu.

Selanjutnya, Kementerian Kominfo juga melakukan pendampingan UMKM melalui program UMKM Active Selling. Program itu bertujuan mendorong perluasan atau scalling up adopsi teknologi dalam implementasi bisnis UMKM hingga akses pasar yang lebih luas. Program itu menargetkan 30 ribu UMKM pada tahun 2022, sebagaimana telah menjangkau 26 ribu UMKM pada tahun 2021.

Berikutnya, Kementerian Kominfo pun meluncurkan program Adopsi Teknologi Digital 4.0 UMKM dengan target 70 ribu UMKM pada tahun 2024. Program itu bertujuan mendorong implementasi penggunaan teknologi 4.0 seperti QR Code dan Big Data.

Hal lain yang menjadi perhatian ialah peningkatan kewirausahaan digital bagi para pelaku UMKM melalui program Pelatihan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) di bawah Program Digital Talent Scholarship (DTS). Pelatihan itu memberi banyak ilmu diantaranya strategi bisnis daring dan keamanan siber.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen IKP Kominfo) Usman Kansong dalam acara Center for Digital Society (CfDS) bertema UMKM Berdaya Untuk Indonesia di Labuan Bajo menyebut perlunya keterlibatan Kementerian Kominfo untuk mengembangkan pelaku UMKM dalam mengasah keterampilan menggunakan teknologi digital.

Dengan adanya keterampilan dalam pemanfaatan berbagai produk digital, maka UMKM bisa memasarkan produk mereka ke pasar daring yang ada (e-commerce). Tak hanya itu, keterampilan digital itu akan membuat UMKM bisa menghasilkan teknologi atau aplikasi baru lainnya.

Pemanfaatan ruang digital secara produktif tentunya tidak bisa dilakukan sendiri. Dia menilai Kementerian Kominfo perlu melibatkan lintas sektor, termasuk para tokoh agama dan generasi muda.

Ekosistem digital ini tentunya akan memberikan manfaat bagi UMKM. Rhony Sumarno telah membuktikannya yakni kemudahan transaksi yang akan mengoptimalkan proses transaksi itu sendiri. Jangkauan dari digitalisasi produk UMKM itu pun lebih luas, lintas negara, dan lintas waktu.

Kini, Kementerian Kominfo ditantang untuk terus melakukan pendampingan UMKM secara aktif pada platform digital. Dengan demikian, UMKM yang ada di Indonesia, khususnya Manggarai Barat dapat terus tumbuh dan berkembang untuk mendukung perekonomian Indonesia.

Baca juga: Menengok dampak Sherpa G20 di Labuan Bajo bagi UMKM lokal

Baca juga: Delegasi Sherpa G20 belanja produk UMKM di Pulau Komodo

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel