Koran Korea Utara Ungkap Bagaimana Kim Jong-un Bisa Tertular Covid-19

Merdeka.com - Merdeka.com - Koran pemerintah Korea Utara Rodong Shinmun memastikan pemimpin Korut Kim Jong-un terkonfirmasi positif Covid-19 pada Mei lalu.

Kabar dari koran itu muncul beberapa pekan setelah adik Kim Jong-un, Kim Yo-jong, menyebut kakaknya sempat mengalami demam ketika mengumumkan kemenangan Korut terhadap wabah virus corona.

Dia mengatakan kakaknya "sakit parah" dengan demam tinggi, tapi dia tidak bisa beristirahat karena harus mengurus rakyat Korea Utara.

Koran Rodong Shinmun menjelaskan, "pemimpin terhormat mengalami demam tinggi di tengah perjuangan melawan pandemi" dan dia berkunjung untuk menemui para pekerja yang kemudian terinfeksi virus corona.

"Para pekerja di sana kemudian berkaca-kaca dan tak mampu menahan haru melihat sang pemimpin memberi mereka semangat dalam menghadapi wabah," kata koran itu, seperti dilansir laman South China Morning Post, Selasa (30/8).

Kim Jong-un bertemu dengan para pekerja pada 12 Mei ketika dia mengumumkan munculnya wabah Covid-19 di Korut saat rapat politburo dan kemudian mengunjungi kantor partai untuk penanggulangan dan pengendalian wabah.

Koran pemerintah itu juga menuturkan Kim berkontak dengan orang yang positif beberapa kali sejak wabah muncul Mei lalu.

"Ketika sang pemimpin agung mengunjungi kantor pusat pencegahan epidemi di malam pertama ketika aturan pembatasan diberlakukan, sejumlah pejabat di sana sudah terinfeksi oleh 'epidemi yang ganas ini'," kata koran tersebut.

Rodong Shinmun juga melaporkan Kim mengunjungi sejumlah farmasi di Pyongyang pada Mei lalu untuk memeriksa pasokan obat-obatan.

Laporan dari koran itu menyebutkan, salah satu petugas apoteker yang ditemui Kim belum sepenuhnya sembuh dari Covid-19 dan dia terus-terusan batuk ketika bertemu dengan Kim. Kim Jong-un kemudian dilaporkan sangat khawatir dengan kondisi kesehatan si apoteker dan saat itu dia memakai dua lapis masker.

Pada 12 Agustus Kim Yo-jong mengumumkan kemenangan atas perjuangan melawan pandemi virus corona dan mencabut aturan pembatasan ketat. Itu adalah tiga bulan setelah Korut mengumumkan kasus pertama pada Mei.

Namun menurut kantor berita KCNA Korut mencatat empat kasus baru tambahan pekan lalu. Total jumlah kasus Covid-19 di Korut selama ini tidak pernah diungkap.

Choi Jong-hoon, mantan pakar penyakit menular dari Korea Utara, mengatakan koran pemerintah itu tampaknya menerbitkan propaganda yang bertujuan menjaga kesetiaan kepada partai. Dia meragukan klaim Korut yang bisa mengatasi pandemi ini.

"Rakyat Korea Utara sudah sangat menderita sekali dalam tiga tahun pandemi ini," kata Choi. "Mereka sudah lelah dengan kondisi keuangan dan pejabat Korut tampaknya merasa perlu menunjukkan Kim Jong-un sendiri juga menderita dan sengsara." [pan]