Korban Gempa di Malang Buka Bersama Pertama di Posko Pengungsian

Syahrul Ansyari, Lucky Aditya (Malang)
·Bacaan 2 menit

VIVA - Korban gempa bermagnitudo 6,1 di Majang Tengah, Dampit, Kabupaten Malang, melakukan buka bersama di posko pengungsian. Mereka menyantap menu buka bersama dengan masakan dari dapur umum swadaya masyarakat dan dapur umum dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang.

Momen lebaran tahun ini mungkin menjadi lebaran yang penuh keprihatinan bagi korban bencana gempa bumi di Kabupaten Malang. Biasanya, mereka menikmati momen kehangatan ramadhan di dalam rumah yang mereka tinggali.

Kini, mereka terpaksa menyantap sahur, tidur, dan berbuka puasa dari tenda posko pengungsian korban gempa seperti di Desa Majang Tengah, Dampit, Malang.

Baca juga: Korban Gempa Malang Keluhkan Lambatnya Bantuan untuk Buka Puasa

PMI Kabupaten Malang mendirikan dapur umum di desa Majang Tengah, Dampit, Kabupaten Malang. Mereka mendistribusikan makanan siap santap untuk menu buka puasa. Sebanyak 3.700 lebih nasi bungkus mereka distribusikan ke warga desa terdampak gempa.

"Untuk mencukupi makan pengungsi di bulan puasa kita buat secukupnya namun hari ini kita mampu membuat 3.700 makanan bungkus untuk buka puasa. Nanti akan terus kita tingkatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Yang jelas jangan sampai warga yang terkena musibah gempa ini tidak dapat bantuan," kata Seketaris PMI Kabupaten Malang, Aprilijianto, Selasa, 13 April 2021.

Dia mengatakan, untuk kapasitas produksi dapur umum PMI sebanyak 2 ribu bungkus nasi. Tetapi warga terdampak gempa lebih dari itu, mereka berusaha meningkatkan jumlah kapasitas produksi nasi bungkus untuk pengungsi.

"Dapur umum satu tempat di Balai Desa. PMI untuk lainnya kita menyiapkan tenda di posko-posko pengungsian. Kapasitas dapur umum sekali masak 2 ribu porsi tapi kita berusaha memenuhi kebutuhan kita tingkatkan produksinya," ujar Aprilijianto.

Aprilijianto mengatakan, sampai saat ini mereka masih berkonsentrasi pada penyiapan menu sahur dan buka di dapur umum PMI. Untuk pendistribusian kebutuhan pokok bagi dapur umum swadaya yang didirikan oleh warga mereka belum menjalankan program itu.

"Yang jelas bahan belum jadi masalah karena kita bekerjasama dengan BPBD dan Pemkab Malang. PMI sementara konsentrasi untuk dapur umum artinya makanan jadi. Kebutuhan pokok belum sampai ke sana. Kita ikuti program pemeritnah sampai kapan, yang jelas PMI siap membantu masyarakat Kabupaten Malang yang terdampak gempa," tutur Aprilijianto.

Sementara itu, salah satu pengungsi di Desa Majang Tengah, Dampit Tri Anggono, mengaku bersyukur mendapat kiriman nasi bungkus dari PMI Kabupaten Malang. Sebab, kondisi rumahnya hancur sehingga istrinya tidak bisa masak untuk kebutuhan buka puasa maupun sahur.

"Ya saya bersyukur karena kan di rumah istri saya tidak bisa masak. Karena rumah hancur, dapur rusak dan alat-alat rumah rusak," kata Tri.