Korban Gerbong Maut Siap Gugat Pemerintah Belanda  

TEMPO.CO, Bondowoso - Keluarga korban peristiwa "Gerbong Maut" di Bondowoso, Jawa Timur, yang terjadi pada 23 November 1947 lalu, siap melayangkan gugatan terhadap pemerintah Belanda.

"Kalau korban Rawagede bisa, kenapa kami tidak?" kata Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Cabang Bondowoso, Mohammad Mujahid, seusai acara peringatan 65 tahun "Tragedi Gerbong Maut" di Stasiun Bondowoso, Minggu, 25 November 2012.

Menurut Mujahid, gugatan itu akan segera diajukan keluarga korban bersama Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB).

Keluarga dari 100 pejuang "Gerbong Maut" menuntut pemerintah Belanda meminta maaf kepada rakyat Bondowoso dan pemerintah Indonesia.

Selain itu, mereka meminta pemerintah Belanda membangun sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai di Bondowoso dan memberikan santunan kepada keluarga korban. "Tindakan Belanda saat itu merupakan kejahatan kemanusiaan, juga pelecehan bagi kehormatan bangsa Indonesia," ujar Mujahid.

Ketua Dewan Penasihat KUKB, Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono, menyatakan sangat mendukung upaya keluarga korban "Gerbong Maut" untuk mengugat pemerintah Belanda.

Mulyo menegaskan bahwa pemerintah Indonesia dan keluarga para korban sangat layak mendapat permohonan maaf dari pemerintah Belanda. "Peristiwa tragis 65 tahun lalu itu menyangkut kehormatan perjuangan rakyat, bangsa, dan negera kita," ujarnya.

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ini menjelaskan bahwa bukti-bukti dan saksi peristiwa maut itu masih ada hingga saat ini. "Saksi mata dan saksi fisik peristiwa gerbong maut jelas. Ini modal yang lebih baik dibandingkan peristiwa di Rawagede," ucap Mulyo.

Dosen dan peneliti sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Jember, Edy Burhan Arifin, memaparkan, meskipun "Gerbong Maut" bersifat lokal, peristiwa itu berdampak luas secara nasional dan internasional.

Faktanya, setelah peristiwa tersebut, Dewan Keamanan PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk mempercepat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia. "Peristiwa itu membuat Belanda terpojok di mata internasional sehingga mempermulus penyerahan kedaulatan negara kepada Indonesia," tutur Edy.

"Tragedi Gerbong Maut" terjadi ketika Belanda bermaksud memindahkan tawanan pejuang kemerdekaan dari penjara Bondowoso ke penjara Kalisosok, Surabaya.

Dalam pemindahan yang ketiga, 100 orang tawanan dimasukkan dalam tiga gerbong barang yang tertutup rapat tanpa ventilasi. Pada gerbong nomor GR 10152 berisi 38 tawanan, gerbong nomor GR 4416 berisi 30 tawanan, dan gerbong nomor GR 5769 berisi 32 tawanan.

Karena atap dan dinding gerbong terbuat dari pelat baja yang tertutup rapat, serta menempuh perjalanan 16 jam, pada saat tiba di Stasiun Wonokromo, Surabaya, tercatat sedikitnya 46 orang tewas dan 52 orang sakit parah. Sedangkan 12 orang selamat. "Kejadian tragis itu yang membuat nama Belanda tercemar di mata dunia internasional," kata Edy.

MAHBUB DJUNAIDY

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.