Korban Meninggal Odong-Odong Ditabrak Kereta di Serang Bertambah jadi 10 Orang

Merdeka.com - Merdeka.com - Korban kecelakaan maut odong-odong akibat ditabrak kereta di Desa Silebu Kecamatan Kragilan, Serang, Banten, Selasa (26/7), kembali bertambah. Korban terbaru seorang balita berumur dua tahun dikabarkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan beberapa hari di Rumah Sakit Hermina.

Korban meninggal pada Jumat (28/7) sekitar pukul 20.00 WIB. Korban bernama Putri Qaila Septiana mengalami luka berat di kepala.

"Korban Putri Qaila Septiana sempat dirawat di RS Hermina Serang selama 4 hari dan mendapatkan tindakan berupa kraniatomi atau operasi untuk mengangkat gumpalan darah dari kepala korban oleh tim dokter RS Hermina Serang," kata Kasihumas Polres Serang Iptu Dedi Jumhaedi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (30/7).

Dedi mengatakan, penambahan korban itu membuat 33 penumpang odong-odong yang meninggal dunia menjadi 10 orang.

"23 penumpang lainnya terluka baik berat maupun ringan," kata dia.

Sopir Odong-Odong Tersangka

Pemuda berinisal JL (27) warga Sentul, Kragilan Kabupaten Serang, sopir odong-odong maut yang menyebabkan sembilan orang meninggal dunia, ditetapkan menjadi tersangka oleh Polres Serang.

Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Shinto Silitonga mengungkapkan tersangka belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) sebagai kopetensi dalam berkendara.

"Bahwa tersangka atau sopir ini belum memiliki surat izin mengemudi, golongan A sesuai dengan kompetensi agar bisa mengendarai kendaraan roda 4," kata Shinto di Mapolres Serang, Rabu (27/7).

Shinto menegaskan tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dia terancam pidana maksimal enam tahun penjara.

"Tersangka dijerat pasal 310 ayat 2, 3 dan 4, Undang-Undang nomor 22 tahun 2009. mengakibatkan terjadinya kecelakaan lalu lintas hingga mengakibatkan korban mengalami luka ringan ayat 2, luka berat ayat 3 dan meninggal dunia ayat 4. Ada tiga pasal yang memang digunakan untuk melapis peristiwa lakalantas tersebut, dengan ancaman pidana maksimal 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp12 juta," pungkasnya.

Saat kejadian, JL mengaku menyalakan musik kencang saat melintasi perlintasan tanpa palang pintu. Akibatnya dia tidak mendengar kereta datang dan menabrak odong-odongnya.

"Iya nyetel musik (kencang)," ujar JL saat ditemui di Mapolres Serang.

JL mengungkapkan dirinya menyesal dengan apa yang telah terjadi. "Menyesal, namanya juga musibah," ujarnya. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel