Korban penganiayaan anggota Polres Demak mengadu ke LBH

MERDEKA.COM. Galih Yoga Pratama, korban dugaan penganiayaan anggota Polres Demak, Jawa Tengah Kamis (21/2) siang mendatangi Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron, di Jalan Permata Hijau Blok B No.18 Semarang Utara. Kedatangan mereka ini karena tak puas dengan proses hukum yang dilakukan Propam Polda Jateng. Pasalnya, sampai saat ini upaya pelaporan yang dilakukan oleh mereka tidak juga ditindaklanjuti.

Didampingi ayahnya Budiyanto, korban penganiayaan oknum polisi Galih Yoga Pratama dan Sukirman mendatangi kantor LBH Mawar Saron, sekitar pukul 11.00 WIB. Sebab, hingga kini, belum adanya titik terang dalam proses hukum terhadap kasus salah tangkap dan penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota Polres Demak.

“Saya kan hanya seorang pekerja buruh tani. Maka saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Bagaimana pun juga saya selalu kepikiran anak Saya. Bagaimanapun saya tetap akan mencari keadilan,” keluh Budiyanto.

Sementara itu, Guntur Perdamaian, selaku kuasa hukum korban, melihat banyak kejanggalan pada proses penyelidikan, termasuk tidak diberikannya surat bukti laporan oleh petugas yang merupakan bukti bahwa laporan korban diterima petugas. “Tadi Saya juga kaget, waktu Saya tahu bahwa bukti laporan itu tidak diserahkan kepada korban,” kata Guntur.

Untuk selanjutnya, kasus ini akan dikawal oleh pihak LBH, termasuk melakukan koordinasi dengan unit terkait di Polda Jateng.

Seperti yang diberitakan merdeka.com sebelumnya, Galih Yoga Pratama (18) yang dituduh sebagai pembunuh ditangkap lalu dianiaya. Namun hal itu ternyata tidak terbukti. Galih saat itu berada di rumah temannya yang bernama Sukirman, Jumat (15/2), sekitar pukul 16.30 WIB.

Secara tiba-tiba datang lima polisi yang mengendarai mobil dan mengaku dari Polres Demak. Dirinya dan Sukirman langsung dimasukkan ke mobil oleh kelima polisi itu dan ditanyai di mana menyembunyikan celurit. Kemudian juga disuruh mengaku melakukan pembunuhan yang saya sendiri tidak tahu sama sekali.

Selama di dalam mobil, Galih mengaku dipukuli berkali-kali oleh anggota polisi yang berinisial T di bagian kepala, wajah serta pinggang. Dia pun terus dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Galih sempat mendatangi Mapolda Jateng di Jl. Pahlawan Kota Semarang untuk melapor namun sempat ditolak oleh petugas.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.