Korban Tewas Konflik Suriah Tembus 100 Ribu Jiwa

TEMPO.CO, DAMASKUS—Korban tewas akibat konflik Suriah dilaporkan telah menembus jumlah 100 ribu jiwa, Rabu, 26 Juni 2013. Lembaga Observatori Hak Asasi Manusia Suriah yang berkedudukan di London, Inggris, mengungkapkan sekitar 100.191 orang tewas sejak perang saudara berkecamuk dua tahun lalu. Sekitar sepertiga dari jumlah korban tewas adalah warga sipil.

Menurut lembaga tersebut, jumlah korban terbesar berasal dari pasukan pemerintah yakni 25.407 orang. Adapun milisi bersenjata pro-Presiden Bashar Assad yang tewas mencapai 17.311 jiwa. Korban tewas juga datang dari militan Hizbullah asal Libanon yang mendukung Assad, yakni 169 orang.

Sedangkan korban tewas dari kubu oposisi sebanyak 13.539 tentara pemberontak, 2.015 tentara yang membelot, serta 2.518 pejuang asing yang membantu perjuangan kelompok pemberontak.

Jumlah ini berbeda dengan data PBB yang menunjukkan ada 93 ribu orang tewas dalam konflik di Suriah. Korban jiwa berjatuhan dan jutaan warga Suriah terpaksa mengungsi ke beberapa negara tetangga sejak Assad memerintahkan tentara untuk memberangus oposisi.

Hingga kini, dunia internasional gagal menghentikan konflik Suriah karena pertentangan negara-negara maju. Negara-negara Barat dan Liga Arab, yang didukung Arab Saudi, berkukuh untuk berada di belakang kelompok oposisi. Sedangkan Rusia, Cina dan Iran menegaskan bahwa penjatuhan Assad inkonstitusional.

Utusan khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, mengatakan rencana pertemuan damai seluruh kubu di Suriah yang digagas Amerika Serikat dan Rusia awal bulan ini terpaksa diundur. »Alasan pengunduran, terutama karena belum solidnya kelompok oposisi,” kata Brahimi kepada wartawan, Selasa lalu.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, mendesak Emir baru Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, mengubah kebijakannya ihwal Suriah. »Perubahan sikap dari Qatar akan menjadi penanda positif sehingga kita dapat bersama mengatasi krisis Suriah,” tutur Salehi dalam konferensi pers di Teheran, yang disiarkan stasiun televisi Press.  

L AP | WASHINGTON POST | REUTERS | SITA PLANASARI AQUADINI

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.