Korban tragedi Kanjuruhan diperbolehkan pulang usai dirawat satu bulan

Satu orang pasien korban tragedi Kanjuruhan yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, diperbolehkan untuk pulang usai menjalani perawatan kurang lebih selama satu bulan.

Bupati Malang M Sanusi di Kabupaten Malang, Rabu mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, untuk perawatan lanjutan terhadap korban tragedi Kanjuruhan tersebut.

"Jadi, berikutnya yang melanjutkan perawatan adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Saya sudah menelepon Bupati Sidoarjo," kata Sanusi.

Sanusi menjelaskan, korban yang diperbolehkan pulang usai menjalani perawatan selama satu bulan di RSUD Kanjuruhan tersebut bernama Vicky Hermansyah berusia 20 tahun, warga Kelurahan Kejambi, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Baca juga: Kondisi satu pasien korban tragedi Kanjuruhan mulai membaik

Baca juga: RSUD Saiful Anwar siap bantu proses autopsi korban Kanjuruhan


Menurutnya, korban tragedi Kanjuruhan tersebut masih membutuhkan penanganan lanjutan untuk pemulihan. Pemerintah Kabupaten Malang juga telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan puskesmas setempat.

"Jadi ini sudah dikoordinasikan dengan Dinkes Kabupaten Sidoarjo dan puskesmas setempat. Sehingga nanti ketika sampai di Sidoarjo akan diterimakan ke puskesmas setempat, lalu diantar sampai ke rumahnya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama RSUD Kanjuruhan Bobi Prabowo menambahkan, pasien tersebut mengalami cedera otak berat. Pasien sempat menjalani perawatan di Unit Perawatan Intensif (ICU) selama dua minggu.

Korban tersebut masuk ke RSUD Kanjuruhan, lanjutnya dalam keadaan koma dan mendapatkan perawatan intensif. Dalam perjalanannya, kondisi korban berangsur-angsur membaik hingga akhirnya diperbolehkan untuk pulang.

"Syukurlah Vicky bisa bertahan dan kondisinya berangsur-angsur membaik. Mudah-mudahanan sampai di Sidoarjo nanti dapat diberikan kesembuhan secara sempurna," ujarnya.

Pada Sabtu (1/10), terjadi kericuhan usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Kekalahan itu menyebabkan sejumlah suporter turun dan masuk ke dalam area lapangan.

Akibat kejadian itu, sebanyak 135 orang dilaporkan meninggal dunia akibat patah tulang, trauma di kepala dan leher dan asfiksia atau kadar oksigen dalam tubuh berkurang. Selain itu, dilaporkan juga ada ratusan orang yang mengalami luka ringan termasuk luka berat.

Baca juga: Mensos berikan santunan dari Presiden untuk korban Kanjuruhan

Baca juga: Korban selamat tragedi Kanjuruhan jalani masa pemulihan