Korea Utara desak rakyat terobos hambatan setelah kebuntuan nuklir berlanjut

Oleh Josh Smith

SEOUL (Reuters) - Pada saat tenggat waktu Korea Utara untuk Amerika Serikat agar melunakkan sikap dalam pembicaraan denuklirisasi berlalu tanpa ada apa-apa selama Tahun Baru, media pemerintah dan upaya propaganda telah fokus kepada prospek konfrontasi jangka panjang dengan Amerika Serikat.

Optimisme dua tahun dari kontak antara pemimpin Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump yang bisa mengantar ke era baru, dan harapan perbaikan ekonomi setelah berpuluh-puluh tahun kekurangan, sepertinya sudah memudar.

Alih-alih, pemerintah Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir berusaha keras memanfaatkan media pemerintah, poster propaganda, dan pertunjukan untuk memperingatkan publik mengenai jalan bergelombang di depan mata di bawah tekanan AS dan internasional.

Upaya propaganda itu memasukkan seruan kepada warga Korea Utara untuk "menerobos hambatan" dan memperkuat negaranya.

Perayaan Tahun Baru Imlek akhir pekan ini termasuk konser untuk Kim dan pejabat lainnya dengan penghormatan kepada para pemimpin negara dalam mengatasi kesulitan.

Ini pesan yang akrab di mata telinga warga Korea Utara, tetapi pesan kali ini menggarisbawahi bahwa dalam waktu dekat ini kepemimpinan tidak melihat terobosan dalam diplomasi.

"Pesannya adalah bahwa karena kebijakan dan sanksi bermusuhan AS, maka segala sesuatunya menjadi lebih sulit lagi pada masa mendatang," kata Andray Abrahamian, pakar pada George Mason University Korea.

Di balik layar, para pejabat Korea Utara masih mengaku masih mengusahakan pencabutan sanksi yang sangat dibutuhkan itu, kata seorang pakar Eropa yang biasa menghadiri pertemuan informal dengan diplomat-diplomat Korea Utara.

Di depan umum, Korea Utara mengatakan tak lagi terikat dengan komitmen menghentikan uji coba nuklir dan rudal, menyalahkan Amerika Serikat karena gagal memenuhi batas waktu akhir tahun untuk menunjukkan sikap lebih fleksibel dalam perundingan nuklir dan atas sanksi "brutal dan tidak manusiawi"-nya.

Sejak Kim berkuasa pada 2011, banyak warga Korea Utara yang perlahan taraf hidupnya meningkat dibandingkan dengan era serba kekurangan dan bahkan kelaparan pada 1990-an.

Pada 2018, Kim melipatgandakan hal itu dengan menyatakan program senjata nulklir "telah rampung" sehingga memungkinkan pemerintah alih fokus ke pembangunan ekonomi.

'MASA MENGKHAWATIRKAN'

Tetapi kegagalan dalam mendapatkan pencabutan sanksi menempatkan Kim pada posisi yang sensitif.

"Pada 2012, Kim sudah berjanji bahwa tidak akan ada lagi pengetatan ikat pinggang," kata Abraham.

"Sebagian besar warga Korea Utara menyelami prospek ekonomi mereka membaik di bawah Kim Jong Un, jadi saya yakin ini adalah masa mengkhawatirkan bagi mereka."

Dorongan propaganda itu dirancang untuk mendukung kebijakan yang ditetapkan Kim dalam pidatonya akhir tahun lalu yang menyeru rakyat Korea Utara bersiap untuk "perjuangan yang sulit dan berkepanjangan" serta untuk menumbuhkan ekonomi mandiri karena terlambat mengantisipasi pencabutan sanksi, kata analis.

Kim memanfaatkan pidato itu untuk mengisyaratkan bahwa Korea Utara mungkin perlu "mengencangkan ikat pinggang kami" untuk saat ini.

Tetapi media pemerintah dan propaganda belum luas mendorong pandangan ini, sebagian mungkin karena janji-janji Kim di masa lalu, kata Rachel Minyoung Lee, analis NK News, sebuah situs web yang memantau Korea Utara.

"Ini masa yang kontroversial dan Korea Utara mungkin akan meluncurkannya dengan sangat halus dan hati-hati," kata dia.

Bulan-bulan terakhir 2019 adalah masa ketika para pejabat senior memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak mengabaikan ancaman Korea Utara mengenai "jalan baru" seandainya AS tak memberikan konsesi yang lebih banyak lagi dalam pembicaraan yang bertujuan membuat Korea Utara meninggalkan senjata nuklirnya.

Peringatan Kim bahwa dunia akan segera menyaksikan "senjata strategis baru", ternyata berlalu tanpa ada apa-apa.

Sejak itu, media negara Korea Utara bungkam soal pembicaraan dengan Amerika Serikat.

"Saya merasa mereka sedang menunggu waktu untuk melakukan beberapa perubahan kebijakan luar negerinya, termasuk kebijakan terhadap AS, dan Korea Utara bisa memperjelas niatnya karena semakin dekat dengan memamerkan 'senjata strategis baru' mereka," kata Lee.