Korea Utara mungkin gelar peluncur roket 'super besar' dalam waktu dekat

Seoul, Korea Selatan (AP) - Korea Utara pada Jumat mengatakan uji-coba penembakan paling akhir peluncur banyak roket "super-besar" miliknya adalah kajian akhir aplikasi senjata tempur, pendapat bahwa negeri itu bersiap menggelar sistem senjata baru dalam waktu dekat.

Militer Korea Selatan sebelumnya mengatakan Korea Utara menembakkan dua proyektil, tampaknya dari peluncur roket "super-besar" yang sama, pada Kamis (28/11). Militer Korea Selatan menyampaikan "penyesalan kuat" mengenai peluncuran tersebut dan mendesak Korea Utara agar menghentikan peningkatan ketegangan.

Pada Jumat, Kantor Berita Korea Utara, KCNA, mengkonfirmasi peluncuran dilakukan dilakukan dengan dihadiri pemimpin Kim Jong Un dan pejabat senior lain.

"Uji-coba penembakan bertujuan untuk pada akhirnya mengkaji pelaksanaan tempur sistem peluncur banyak roket super-besar membuktikan keunggulan militer dan teknis sistem senjata tersebut dan keandalan tegasnya," kata KCNA.

Kim, katanya, menyampaikan "kepuasan yang sangat besar" mengenai hasil uji-coba penembakan itu.

Pengulas Kim Dong-yub dari Institute for Far Eastern Studies di Seoul mengatakan Korea Utara tampaknya memasuki tahap produksi massal dan penggelaran peluncur roket. Ia menulis di Facebook bahwa sistem senjata itu mungkin sudah digelar.

Penembakan pada Kamis (28/11) adalah uji-coba keempat peluncuran roket sejak Agutus.

Beberapa ahli mengatakan jarak jelajah dan lintasan proyektil yang ditembakkan dari peluncur tersebut memperlihatkan proyektil itu sesungguhnya adalah rudal atau senjata kelas rudal. Proyektil yang ditembakkan pada Kamis tersebut terbang sejauh 380 kilometer (235 mil) dengan ketinggian maksimum 97 kilometer (60), kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Kamis menyebut proyektil tersebut rudal balistik.

Korea Utara telah menembakkan senjata baru lain dalam beberapa bulan belakangan ini dalam apa yang dikatakan sebagian ahli adalah upaya untuk meraih konsesi dari Amerika Serikat dalam diplomasi nuklir yang macet sementara meningkatkan kemampuan militernya.

Satu diplomasi pimpinan AS bertujuan membujuk Korea Utara agar menghapuskan program senjata nuklirnya sebagai imbalan bagi manfaat politik dan ekonomi kebanyakan masih macet sejak ambruknya pertemuan puncak pada Februari antara Kim dan Presiden Donald Trump di Vietnam.

Kebanyakan senjata Korea Selatan yang diuji-coba sejak pertemuan puncak Vietnam adalah jarak-dekat. Perhatian sekarang tertuju pada apakah Korea Utara melanjutkan uji-coba rudal jarak-jauh dan nuklirnya jika Trump gagal memenuhi tenggat satu-tahun, yang ditetapkan oleh Kim, buat Washington untuk menawarkan usul baru guna menyelamatkan perundingan.

Trump menganggap moratorium yang dilakukan sendiri oleh Korea Utara pada ujic-oba rudal balistik antar-benua dan nuklir adalah "kemenangan besar kebijakan luar negeri".