Kostum Baru Tim Senam Wanita Jerman di Olimpiade Tokyo 2020 Lebih Tertutup

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ada yang berbeda dengan kostum tim senam wanita Jerman. Mereka mengenakan kostum berpotongan panjang menjelang upacara pembukaan Olimpiade Tokyo 2020, Jumat, 23 Juli 2021. Hal ini merupakan sikap menentang seksualisasi dalam senam.

Melansir Independent, Sabtu, 24 Juli 2021, tim Jerman meninggalkan unitard berpotongan bikini tradisional yang telah dikenakan oleh pesenam wanita sejak 1970-an. Kini, tim Jerman akan bertanding dalam unitard tanpa lengan, menutupi kaki, berwarna ungu dan hitam.

Para atlet memberikan gambaran pertama seragam tahun ini pada Kamis selama sesi latihan podium. Dalam sebuah unggahan di Instagram-nya setelah latihan, anggota tim senam, Elisabeth Seitz, terlihat berpose di samping Kim Bui, Pauline Schaefer, dan Sarah Voss.

Kostum unitard full-length itu memiliki detail renda di sekitar garis leher, potongan renda di sisi kaki, dan elang perak yang mewakili lambang Jerman di satu sisi. Schaefer juga membagikan gambar yang sama di Instagram-nya.

"Bagaimana, Anda menyukai pakaian baru kami?" tulisnya dalam keterangan.

Unitard ini sejalan dengan aturan yang ditetapkan oleh Federasi Senam Internal, yang menyatakan bahwa para peserta diperbolehkan untuk mengenakan "leotard one-piece dengan kaki panjang penuh - pinggul hingga pergelangan kaki".

Keputusan untuk mengenakan bodysuits full-length di pertandingan internasional ini datang setelah tim mengenakan pakaian serupa di Kejuaraan Senam Artistik Eropa pada April lalu. Saat itu, Federasi Senam Jerman mengatakan keputusan itu adalah pernyataan "menentang seksualisasi dalam senam".

Unitard

Elisabeth Seitz dalam Unitard Barunya. (Dok. Instagram /seitzeli/https://www.instagram.com/p/CRof4WHjyVp/)
Elisabeth Seitz dalam Unitard Barunya. (Dok. Instagram /seitzeli/https://www.instagram.com/p/CRof4WHjyVp/)

Seitz menulis di Instagram-nya bahwa dia berharap unitard akan "menjadi contoh ... untuk semua pesenam yang mungkin merasa tidak nyaman atau bahkan seksual di pakaian biasa”.

"Karena menurut kami, setiap pesenam harus bisa menentukan jenis setelan yang paling nyaman untuknya," tambah Seitz.

Sementara, Voss juga menjelaskan keputusan mereka dalam sebuah wawancara dengan penyiar Jerman ZDF. Kata Voss, semua wanita ingin merasa nyaman dengan tubuhnya. Dalam olahraga senam, hal itu semakin sulit diwujudkan saat tumbuh besar.

"Sebagai seorang gadis kecil, saya tidak melihat pakaian olahraga yang ketat sebagai masalah besar. Tetapi ketika pubertas dimulai, ketika menstruasi saya datang, saya mulai merasa semakin tidak nyaman," tambahnya.

Merasa Aman

Elisabeth Seitz dengan kostum barunya (Dok. Instagram /seitzeli/https://www.instagram.com/p/CRof4WHjyVp/)
Elisabeth Seitz dengan kostum barunya (Dok. Instagram /seitzeli/https://www.instagram.com/p/CRof4WHjyVp/)

"Untuk melakukan split dan jump, terkadang baju ketat tidak menutupi semuanya, kadang terpeleset dan itulah mengapa kami menciptakan bentuk baru baju ketat sehingga semua orang merasa aman di sekitar kompetisi dan pelatihan," kata Voss dikutip Insider, Sabtu, 24 Juli 2021.

"Setiap kali anda merasa tidak aman, itu mengalihkan perhatian Anda dari apa yang ingin Anda tampilkan," tambahnya. "Saya pikir merasa aman dan tidak memikirkan apa yang bisa atau tidak bisa dilihat orang lain cukup melegakan ketika Anda bisa bersaing seperti itu."

Tim senam wanita Jerman akan bertanding di ajang pertama mereka di Olimpiade Tokyo tahun ini pada Minggu, 25 Juli 2021. Sebelum tim Jerman, tim bola voli pantai Belgia juga menolak menggunakan bikini sesuai aturan yang ditetapkan dan memilih didenda oleh panitia karena mengenakan celana short.(Jihan Karina Lasena)

Infografis Olimpiade Tokyo 2020

Infografis Olimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Olimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel