Kota Pariaman telah miliki pusat rehabilitasi pecandu narkoba

Kota Pariaman, Sumatera Barat, telah memiliki pusat rehabilitasi pecandu narkoba yang diberi nama Gandoriah Rehabilitasi Center (GRC) berlokasi di Desa Kampung Kandang, Kecamatan Pariaman Timur sebagai upaya membebaskan warga dari pengaruh barang haram tersebut.

"Kami mengapresiasi GRC dan bangga, berarti telah membantu pemerintah dalam penanganan narkoba di Pariaman," kata Wakil Wali Kota Pariaman yang juga Ketua Badan Narkotika Kota Pariaman Mardison Mahyuddin di Pariaman, Senin.

Ia mengatakan untuk melawan narkoba harus bersama-bersama karena barang haram itu tidak saja dapat merusak kesehatan pemakainya, namun juga tatanan sosial.

Untuk itu, lanjutnya, Pemkot Pariaman selalu melaksanakan sosialisasi terhadap siswa dan warga di daerah itu terkait bahaya narkoba serta menegaskan kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) setempat untuk tidak menggunakan barang haram itu.

"Kami berkomitmen untuk mengawasi seluruh pegawai di lingkungan Pemkot Pariaman agar tidak terlibat narkoba karena dapat memalukan marwah organisasi pemerintahan," katanya.

Bendahara GRC Riva Triani mengatakan alasan pihaknya mendirikan GRC karena sebelumnya di daerah itu belum memiliki rehabilitasi narkoba padahal banyak pengguna barang haram itu dan keluarganya di Pariaman yang meminta direhabilitasi namun tidak memiliki uang.

"Karena itu kami yang sebelumnya berada Padang termotivasi membuka rehabilitasi di Pariaman dengan sistem subsidi silang, orang yang berkecukupan membantu orang-orang ekonominya di bawah rata-rata. Untuk yang ekonominya lemah hanya membayar uang makan sebesar Rp30 ribu per hari," ujarnya.

Ia mengatakan GRC tersebut telah beroperasi selama satu bulan dengan jumlah pasien lima orang dari berbagai daerah di provinsi itu. Dua orang dari pasien tersebut menginap di GRC sedangkan tiga lainnya rawat jalan.

Ia menyampaikan karena GRC masih baru maka pihaknya masih terkendala sarana dan prasarana untuk mendukung rehabilitasi pecandu narkoba. Meskipun mengalami kendala dalam sarana dan prasarana namun tidak mempengaruhi program yang disiapkan.

Konselor GRC Okky Fianda Satria mengatakan untuk membantu pasien itu pihaknya menggunakan metode pendekatan spritual dan terapi komunitas yaitu sekelompok orang yang mengalami masalah yang sama berkumpul menghadapi masalah yang sedang dihadapi.

"Selama penyembuhan, ketika mereka merasa jenuh sesekali kami membawa mereka ke tempat hiburan seperti tempat wisata dan pemandian," ujar dia.

Ia menambahkan pihaknya juga memiliki program pelatihan untuk menambah kemampuan pasien sebagai bekalnya setelah direhabilitasi yang saat ini baru berternak ikan lele dan nantinya juga budidaya ayam.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel