Kota Romawi yang terkubur tersingkap berkat radar penembus tanah

Paris (AFP) - Para ilmuwan telah menyingkapkan kontur sebuah kota kuno di utara Roma untuk pertama kalinya, dan yang mereka butuhkan hanyalah sebuah sepeda motor roda empat dan sebuah pistol radar.

Kemegahan Falerii Novi yang telah lama terkubur di lembah Sungai Tiber terungkap tanpa membalikkan satu batu pun.

Alih-alih, para peneliti dari Universitas Cambridge dan Universitas Ghent di Belgia menggunakan radar penembus permukaan tanah dan navigasi satelit untuk membuat citra 3-D yang canggih dari kota yang pernah hilang tersebut.

Hasilnya, yang diterbitkan Selasa dalam jurnal Antiquity, menjelaskan aspek arsitektur Romawi dan desain perkotaan yang relatif sedikit diketahui.

Ini juga pertama kalinya teknologi radar penembus tanah yang disebut GPR telah digunakan untuk memetakan keseluruhan sebuah kota, kata Profesor Martin Millett, salah seorang penulis makalah penelitian tersebut, kepada AFP.

"Itu sungguh memberi Anda gambaran resolusi tinggi yang fantastis tentang apa (yang ada di bawah permukaan tanah)", kata Millett. "Apa yang radar ini lakukan membuat Anda bisa melihat apa yang terjadi pada kedalaman yang berbeda."

Ekskavasi tradisional dan teknik-teknik pemetaan 2-D seperti magnetometri, tentu saja, menghasilkan banyak petunjuk tentang seperti apa kota-kota Romawi, tetapi itu semua tak bisa mendapatkan pandangan dari atas mengenai bagaimana kota-kota itu ditata.

Falerii Novi -selemparan batu dari kota Roma modern- terkubur di bawah tanah selama sekitar 13 abad.

Sekitar seperempat kilometer persegi di daerah itu, kota tersebut diperkirakan didirikan pada 241 SM dan dihuni hingga awal abad pertengahan, sekitar 700 Masehi.

Gambar 3-D yang diperoleh para peneliti menunjukkan sejumlah kuil, gedung pemerintahan, dan kompleks pemandian, serta lorong berbentuk kolom yang dianggap sebagai sebuah monumen publik.

Jauh lebih kecil dari kota tetangganya Roma, tata letak Falerii Novi "lebih rumit ketimbang yang biasanya dibayangkan di sebuah kota kecil," catat para penulis penelitian ini.

Pemetaan GPR juga mengungkapkan sebuah sistem pipa air yang rumit yang tidak terlalu berbeda dengan yang ada di kota-kota modern.

"Anda bisa menyaksikan ada sistem pasokan air yang sudah pasti telah ditata sangat dini dalam pengembangan kota tersebut," kata dia. "Apa yang memberitahu kita tentang itu bukan hanya air, tetapi juga mengenai bagaimana rencana kota ini dikonseptualisasikan."

GPR dapat membantu para peneliti dalam memetakan sejumlah kota kuno tambahan, tanpa harus menggali ladang atau mengganggu struktur perkotaan yang sudah dibangun di atasnya.

"Kota-kota sangat penting bagi cara (Kekaisaran Romawi bekerja), tetapi jumlah kota yang kami sepenuhnya pahami, Anda bisa hitung dengan jari satu tangan," kata Millett.

Dia mengatakan bahwa teknik baru ini juga bisa digunakan untuk meneliti situs-situs yang lebih besar seperti Miletus di Turki, Nicopolis di Yunani, atau Kirene di Libya.

Sementara itu, para ilmuwan sedang meneliti citra-citra pemetaan Falerii Novi untuk meneliti lebih lanjut kota kuno tersebut yang merupakan sebuah proses yang bisa memakan waktu beberapa bulan mengingat banyaknya data yang mereka kumpulkan.


prk/mh/dl