KPAI : Para ibu jangan takuti anak dengan kata suntik

·Bacaan 2 menit

Orang tua terutama para ibu agar tidak menakuti anak-anak mereka terhadap jarum suntik sehingga anak-anak bersedia diimunisasi maupun disuntik vaksin COVID-19, kata Kepala Divisi Pengawasan Monitoring dan Evaluasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra.

"Hal ini penting mengingat banyak para orang tua yang masih menakut-nakuti anak-anaknya dengan kata 'suntik' agar sang anak mau melakukan sesuatu yang diinginkan orang tua," kata Jasra melalui siaran pers, Jakarta, Selasa.

Seringkali anak mengalami trauma mendengar kata suntik. Hal ini terjadi karena kebiasaan orang dewasa menakutinya dengan kata 'suntik'. "Misalnya saja, nanti mama bawa suntik ke dokter lo, kalau tidak mau makan. Awas kalau nakal disuntik lo. Dan masih banyak lagi atas nama suntik, menakuti anak agar melakukan sesuatu yang diinginkan," kata Jasra.

Menurut dia, kata-kata tersebut sangat membekas untuk anak sehingga ketika masuk waktu imunisasi, vaksin atau disuntik anak anak diserang ketakutan berlebih.

Baca juga: KPAI sebut belum ada penolakan vaksinasi untuk anak

Baca juga: KPAI apresiasi gerak cepat pemerintah penuhi hak vaksin pada anak

Bagi orang tua yang pernah menakuti anak dengan kata suntik, kata dia, hendaknya meminta maaf pada anak dan sampaikan bahwa suntik adalah bagian penting dalam menjaga kesehatan.

"Katakan ke mereka (anak-anak) dengan disuntik anak-anak terhindar dari kondisi kesehatan yang sangat buruk sampai mereka dewasa nanti," ujarnya.

Jasra menuturkan sebelum vaksinasi, anak anak agar dipastikan mendapat asupan makanan yang tidak memicu reaksi pencernaan seperti kepedasan, sakit perut.

Anak-anak juga agar jangan melakukan aktivitas yang terlalu banyak menguras energi sehingga memicu suhu badan naik atau kelelahan.

Para orang tua juga sebaiknya mendengarkan pendapat anak tentang suntik.

"Bila anak melakukan hal yang menunjukkan sikap tidak mau divaksin, jangan pernah dimarahi karena akan semakin membenarkan sikapnya tersebut. Lebih baik dengarkan apa yang anak rasakan, katakan bahwa itu juga yang mama papa rasakan sebelum vaksin. Namun ternyata tidak benar seperti itu," pesannya.

Baca juga: KPAI: 88,2 persen peserta didik bersedia divaksin

Baca juga: KPAI: Pandemi COVID-19 muncul sebabkan krisis atas hak anak

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel