KPAI Prihatin Kasus Contek Massal di Surabaya

Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan kasus contek massal di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gadel II, Tandes, Kota Surabaya, Jawa Timur, saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN), Mei lalu.


"Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) perlu segera merespons serius hal ini dengan membuat sistem UN yang menjamin kejujuran dan ramah anak," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Badriyah Fayumi saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.


Selain itu, Badriyah yang sedang berada di Pasuruan, Jawa Timur, juga mendesak Kemendiknas mengubah paradigma sekolah dan masyarakat bahwa UN bukanlah vonis mati, sehingga harus menghalalkan beragam cara agar lulus.


"Ini perlu mendapat perhatian. Bangsa ini bisa rusak jika sekolah tidak lagi menjadi tempat menanamkan pribadi jujur," tandas Badriyah.


Ia juga prihatin dengan nasib AL, anak yang dijadikan sumber contekan oleh wali kelasnya, dan orang tuanya yang melaporkan kasus contek massal itu ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang kini dimusuhi, bahkan diusir, warga sekitar karena dianggap mencemarkan sekolah dan lingkungan setempat.


"Fakta ini menunjukkan bahwa ketika ketidakjujuran berjalan sistematis dan massal, kejujuran malah jadi barang aneh yang dimusuhi," kata Badriyah.


Seperti diberitakan, kasus contek massal di SDN Gadel II berlangsung sistematis karena ada simulasi atau gladi bersih sebelumnya. AL, murid pintar di sekolah, itu difungsikan sebagai sumber contekan bagi teman-temannya.


Akibat kasus contek massal tersebut Kepala Sekolah SDN Gadel II Sukatman diberhentikan dari jabatannya, serta diturunkan pangkatnya.


Sedangkan Fatkhur Rohman dan Prayitno, dua guru di SD itu, dijatuhi sanksi penurunan pangkat serta kehilangan jabatannya sebagai guru.


Ketiganya juga dicabut hak-haknya berupa Tunjangan Profesi Pendidikan (TPP) dan sertifikasi guru yang diraihnya selama masa hukuman, yakni tiga tahun untuk Sukatman dan satu tahun bagi Fatkhur dan Prayitno.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.