KPK masih telaah dugaan korupsi PLTU di Kaltim dan Riau

MERDEKA.COM. Sudah empat bulan berlalu sejak Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, melaporkan dugaan korupsi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kalimantan Timur dan Riau ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Tetapi, sampai saat ini, belum ada kemajuan berarti terkait pengaduan itu.

Menurut Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo, sampai saat ini laporan dugaan korupsi itu masih ditelaah.

"Katanya sedang di telaah di Dumas (Pengaduan Masyarakat)," kata Johan lewat pesan singkat, Senin (10/6).

Johan mengaku belum tahu kapan KPK selesai menelaah laporan dugaan korupsi pembangunan PLTU di Kalimantan Timur dan Riau selesai. Dia juga tidak mau membeberkan apakah sampai saat ini sudah meminta keterangan orang per orang terkait pengaduan itu.

"Soal selesai telaah saya tidak diinformasikan," ujar Johan.

Pada 27 Februari lalu, Dahlan Iskan melaporkan dugaan persekongkolan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kalimantan Timur dan Riau. Dia mendesak KPK menyelidiki, bahkan menyidik, dalam proyek pengadaan itu.

Dahlan mengatakan proses lelang pengadaan itu terjadi saat dia menjabat sebagai Direktur PT Perusahaan Listrik Negara, pada 2011. Dia menuding ada pihak-pihak bersekongkol memenangkan perusahaan dalam pembangunan PLTU yang masing-masing bernilai sekitar Rp 800 miliar. Hal itu lantaran, menurut dia, panitia lelang malah memenangkan perusahaan yang menawarkan harga lebih tinggi.

"Saya bingung kenapa perusahaan yang penawarannya lebih rendah malah kalah. Saya lupa nama perusahaannya, tapi nama Direkturnya Li Guo Fan. Dia mengadu penawarannya lebih murah kok kalah," kata Dahlan kepada wartawan saat itu.

Selain melaporkan dugaan korupsi, Dahlan mengatakan namanya dicatut dalam proyek itu.

Menurut Dahlan, dia sudah memerintahkan panitia lelang buat menghentikan proses lelang, dan tidak mengumumkan pemenang lelang. Tetapi, menurut dia, panitia malah tetap melanjutkan proses tender.

Namun, saat ditanya apakah ada keterlibatan politikus Senayan dalam proyek pengadaan PLTU itu, Dahlan mengaku tidak tahu.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.