KPK Sebut 2 Tersangka Kasus Century, DPR Kecewa

TEMPO.CO, Jakarta - Munculnya dua nama tersangka baru kasus Bank Century, yang resmi disampaikan Komisi Pemberantasan Korupsi, belum menjadi titik terang bagi penyelesaian kasus ini. "Ini masih di bawah ekspetasi," ujar anggota Tim Pengawas Century Dewan Perwakilan Rakyat, Bambang Soesatyo dalam rapat di DPR, Jakarta, Selasa 20 November 2012.

Politikus Partai Golkar itu menyesalkan lambatnya penanganan kasus Century hingga memakan waktu tiga tahun. Ia meminta KPK segera menyebutkan tersangka lain. Bambang menilai, dua nama tersangka yang diumumkan KPK belum merujuk kepada kerugian sistemik senilai Rp 6,7 triliun. "Masih ada jalan panjang yang kita lalui," kata dia.

Dalam rapat itu, Ketua KPK Abraham Samad menyebutkan dua nama tersangka baru kasus Century. Dua tersangka itu adalah petinggi Bank Indonesia berinisal BM, Deputi IV Pengelolaan Moneter Devisa, dan SCF, Deputi V Bidang Pengawasan.

Anggota Tim Pengawas yang lain, Hendrawan Supratikno, memberi apresiasi atas peningkatan status penanganan kasus dari penyelidikan ke tahap penyidikan. Namun, menurut dia, dua nama tersebut belum cukup. "Ke mana nama-nama yang lain?" kata dia.

Sedangkan Akbar Faisal mempertanyakan alasan KPK tidak menetapkan Mantan Gubernur Bank Indonesia, Boediono, yang kini menjabat sebagai wakil presiden, sebagai tersangka. "Saya minta penyelidikan berlanjut karena ada indikasi," ujarnya.

Menanggapi pertanyaan soal keterlibatan Boediono, Abraham menyatakan, lembaganya mengacu kepada teori konstitusi. Dalam teori itu disebutkan ada dua warga negara yang jika terjerat kasus hukum, penyelidikannya dilakukan oleh DPR.

Oleh karena itu, Abraham mengatakan, jika DPR menduga ada keterlibatan Boediono, maka penyelidikannya diserahkan kepada parlemen. "Kalau ditingkatkan ke penyidikan, nantinya DPR menyerahkan ke Mahkamah Konstitusi. Kalau benar terbukti, MK menyerahkan ke DPR, barulah ada pemakzulan," kata Abraham.

Anggota Tim Pengawas lainnya, Ahmad Yani, mengatakan, alasan yang dikemukakan Abraham tidak tepat. "Saat itu Pak Boediono belum menjadi wakil presiden, jadi seharusnya penyelidikan dilakukan oleh KPK," kata dia.

SATWIKA MOVEMENTI

Berita terpopuler lainnya:

Pacar Sewaan Ada di Jepang  

Ilmuwan Temukan Gen Penentu Waktu Kematian 

Roket dari Mesir Hantam Israel 

Pejabat Israel Bersumpah Lakukan ''Holocaust'' 

Ketua KPK: Tersangka Century Tunggu Besok di DPR 

Fatah-Hamas Sepakat Bersatu Melawan Israel

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.