Krakatau Steel Sederhanakan Anak Usaha, Bagaimana Nasib KIEC?

Liputan6.com, Jakarta - BUMN Krakatau Steel tengah melakukan restrukturisasi. Demi BUMN baja ini bakal merampingkan anak usaha, terutama yang tidak ada hubungan langsung dengan baja.

Direktur Utama PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), yang merupakan salah satu anak usaha Krakatau Steel yang tidak berhubungan langsung dengan industri baja menyatakan justru KIEC jadi perusahaan yang diandalkan di Krakatau Steel, bersama dua anak usaha lainnya.

"Meskipun tidak ada hubungannya dengan baja, justru KIEC sebagai pengelola kawasan industri didorong agar bisa berkembang. Kawasan industri inilah yang akan memperkuat induk usaha bila berkembang dengan baik. Ada 3 anak usaha yang jadi core bisnis KS (Krakatau Steel), KIEC, KTI (Krakatau Tirta Industri) dan KBS (Krakatau Bandar Samudera)," ungkapnya dalam wawancara eksklusif bersama tim Liputan6.com, Selasa (13/08/20190.



Priyo melanjutkan, anak perusahaan ini sedang disinergikan untuk menunjang kinerja induk usaha. Dengan berkembangnya KIEC, maka industri turunan baja juga akan terwadahi, yaitu sektor properti.

Priyo menegaskan kontribusi KIEC sendiri lebih kepada setoran deviden kepada induk usaha.

Saat ini, KIEC sedang fokus mengembangkan kawasan industri (KI) yang dimiliki perusahaan. Ada 3 KI yang memiliki luas total 765 hektare. KI 3 sendiri ditargetkan rampung tahun 2020, mencakup hotel, perumahan, dan pusat perbelanjaan.

Impor Baja Tak Terbendung, Laba Krakatau Steel Merosot 76,1 Persen

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim. (Liputan6.com/JohanTallo)

Kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk belum terlalu membanggakan hingga Semester I 2019. Hal ini dibuktikan dari pendapatan perusahaan yang mengalami penurunan jika daibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY).

Pendapatan Perseroan turun sebesar 17,82 persen menjadi USD702,05 juta dibanding periode yang sama tahun lalu. Selain itu, kondisi yang menantang ini juga menggerus laba kotor Perseroan sebesar 76,11 persen atau menjadi USD 23,98 juta YoY.

Sepanjang Semester I 2019, Perseroan berhasil meningkatkan penjualan untuk produk HRC (Hot Rolled Coil) dan Pipa baja dari periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 5,52 persen dan 18,63 persen menjadi 608.493 ton dan 46.949 ton. Namun demikian, total keseluruhan penjualan menurun 16,78 persen menjadi 870.995 ton untuk periode yang sama dengan tahun 2018. 

Hal ini disebabkan oleh menurunnya penjualan pada produk baja lainnya seperti Cold Rolled Steel, Wire Rod, Bars & Section yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 47,44 persen, 77,62 persen, 39,44 persen, 44,82 persen.

Penurunan penjualan terbesar terjadi pada produk wire rod menjadi 12.279 ton dari yang sebelumnya 54.858 ton di semester 1 tahun lalu.

"Maraknya baja impor dengan praktik unfair trade menjadi salah satu penyebab utama tidak terserapnya produk baja untuk infrastruktur tersebut," kata Corporate Secretary Krakatau SteelPria Utama dalam keterangannya, Sabtu (3/8/2019).