Kramat Raya, Takjil Stop Service

Qidsy Cikal Rinjana

Saban Ramadan menjelang, jalur pedestrian Jalan Kramat Raya, Jakarta, sesak dengan pedagang takjil. Deretan lapak penjual jajanan ringan itu digelar mulai dari depan Gedung LP3I hingga gerai pameran Tata Motors. Biasanya, mereka sudah siap menjajakan barang dagangan sejak pukul 15.00.

Tidak seperti pedagang kaki lima pada umumnya, penjual takjil tak perlu khawatir lapak semi permanennya menjadi incaran Satuan Polisi Pamong Praja. Sebab keberadaan mereka mendapatkan binaan dari Dinas Usaha Kelas Menengah Jakarta Pusat. Bahkan menjadi wisata andalan Kecamatan Senen.

Untuk Anda yang datang dengan kendaraan pribadi, tidak perlu turun dari mobil atau motor kala memilih jajanan, cukup menepikan kendaraan saja. Sebab letak pedagang relatif dekat dengan jalan raya, hingga bisa memberikan fasilitas drive thru layaknya restoran ternama.

Di sana, Anda bisa memilih pelbagai menu khas Minang seperti lemang tapai, puding minang, es tebak, dan bubur kampiun. Ada juga takjil spesial Ramadan, seperti kolak pisang, bubur mutiara, biji salak, aneka gorengan, dan es buah.

Seorang pembeli, Dina (37) biasa mampir ke lapak takjil Kramat Raya, usai pulang kantor. Menurut dia, belanja jajanan pembuka puasa di sana sangat praktis dan pelayanannya cepat. "Tapi supaya cepat, saya harus sudah tahu apa yang mau dibeli jadi tidak usah turun kendaraan dan milih-milih lagi," kata Dina, Rabu, 2 Juli 2014.

Di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Anda bisa menemukan aneka menu berbuka puasa khas Minang. Seperti lemang tapai, puding minang, es tebak, dan bubur kampiun.
Di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Anda bisa menemukan aneka menu berbuka puasa khas Minang. Seperti lemang tapai, puding minang, es tebak, dan bubur kampiun.

Harga takjil di sana pun relatif ramah kantong, antara Rp2.500-Rp25.000. Misalnya saja lemang tapai yang dijual seharga Rp25.000 per bambu. Lemang tapai yang pengolahannya menggunakan bungkus bambu ini merupakan makanan primadona kala Ramadan.

Satu penjual lemang tapai adalah Umar, 57 tahun. Perempuan yang sudah berjualan lemang tapai selama 20 tahun ini bercerita jika penganan itu menjadi incaran masyarakat karena rasanya manis dan gurih. "Pembuat lemang tapai itu hanya satu orang, asli Bukittinggi, sehingga rasa dan kualitasnya terjaga. Saya dan pedagang lain hanya bertugas menjualnya," kata Umar.

Menu incaran lain di Kramat Raya adalah bubur kampiun dan es tebak, yang terletak di Gang Soka, sebelum dealer Tata Motors. Kedua menu itu ada di Warung Nasi Kapau Bukittinggi yang sudah berjualan sejak 1970.

Es tebak adalah es campur khas Minang yang berisi tebak, potongan kelapa muda, cincau hitam, tapai, dan kolang-kaling yang disiram sirup dan susu. Tebak sendiri merupakan penganan semacam cincau yang terbuat dari tepung beras dengan tekstur lebih padat dan tidak kenyal. Satu porsi es tebak, seharga Rp10.000.

Sedangkan bubur kampiun merupakan percampuran dari bubur candil, bubur sumsum, kolak pisang, pulut atau ketan, kolang-kaling, dan srikaya. Racikan bubur itu mendapatkan siraman kuah santan bergula merah. Srikaya dalam bubur kampiun bukanlah buah. Melainkan semacam bubur yang terbuat dari telur, santan, dan gula merah. Bubur kampiun dibanderol seharga Rp13.000.

Kata seorang pembeli, Ranti (24), rasa bubur kampiun di sana tidak berubah dari tahun-ke tahun. "Rasa es dan buburnya tetap sama, jadi seperti nostalgia masa kecil," kata dia.

Satu pelayan Warung Nasi Kapau Bukittinggi, Made, bercerita kalau pengelolaan rumah makan itu sudah dipegang oleh generasi kedua, yakni Haji Adi. Yang juga anak dari pendiri warung itu. "Pada awal 1970, warung ini hanya berjualan es tebak dan bubur kampiun. Seiring permintaan pelanggan, pada 1980-an, ditambah pula menu nasi kapau dan lauk pauknya," kata Made.

Temukan busana untuk Lebaran dengan harga terjangkau di Shoptacular