Kredit Masih Tumbuh Minus 2,4%, BI Ungkap Curhat Bank dan Sektor Rill

·Bacaan 2 menit

VIVA – Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Juda Agung mengakui, meskipun sudah relatif membaik dibanding capaian per Maret 2021 yang minus 3,7 persen. Penyaluran kredit perbankan pada April 2021 masih terkontraksi minus 2,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Itu yang masih jadi persoalan utama dalam proses pemulihan ekonomi, dimana pertumbuhan kredit sampai sekarang masih terkontraksi," kata Juda dalam telekonferensi di acara Webinar 'Peran Kebijakan Makroprudensial dalam Pemulihan Ekonomi', Jumat, 28 Mei 2021.

Dia menambahkan, kontraksi yang masih terjadi dalam hal pertumbuhan kredit itu, merupakan akibat dari belum bertemunya aspek penawaran dan permintaan. Antara, pihak pemberi kredit dan calon penerima kredit tersebut.

Juda bahkan tak menyangkal bahwa aspek penawaran yang dilakukan oleh para pihak perbankan juga masih belum kuat. Khususnya dalam upaya mereka untuk menyalurkan kredit tersebut.

Baca juga: Beli Rumah Tapak di Jakarta Sekarang, Siapkan Dana Minimal Segini

"Nah pihak-pihak perbankan ini juga mengatakan bahwa demand-nya masih lemah, bahkan tidak ada," ujar Juda.

Namun di sisi lain, dari sektor riil justru mengatakan bahwa masih banyak bank-bank yang belum mengucurkan kredit, atau mau mengucurkan namun bunganya masih terbilang cukup tinggi. Sehingga, hal itu jelas mempengaruhi aspek permintaan kredit tersebut.

"Ataupun kalau (perbankan mau) mengucurkan kredit, bunganya terlalu tinggi. Jadi ini kalau kita lihat adalah dua faktor yang masih memengaruhi," kata Juda.

Sementara jika dilihat dari sisi permintaan kredit, Juda mengatakan bahwa dari pihak konsumen, utamanya dari sektor korporasi, saat ini memang masih dalam proses pemulihan.

"Sales dari korporasi kalau kita lihat adalah korporasi-korporasi yang listed di stock market, sales growth-nya masih terkontraksi 2,9 persen di kuartal I-2021 kemarin," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, sejak pandemi COVID-19 merebak di 2020, kebijakan makroprudensial yang akomodatif khususnya yang berbasis kredit telah menjadi salah satu pilar penting yang dilakukan. Khususnya, dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Karena itu, BI juga mendorong transparansi suku bunga kredit perbankan untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter. Sehingga dapat meningkatkan kredit atau pembiayaan kepada dunia usaha.

"BI akan terus berupaya merumuskan dan mensinergikan kebijakan makroprudensial secara inovatif dan terukur, guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional dengan tetap menjaga ketahanan stabilitas sistem keuangan," kata Destry.