Krisis Ekonomi, Bensin Habis di Sri Lanka

Merdeka.com - Merdeka.com - Krisis ekonomi yang menghantam Sri Lanka semakin parah dan disebut krisis terburuk dalam 70 tahun. Stok bensin di negara itu telah habis, seperti diumumkan Perdana Menteri baru Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe. Tumpukan kendaraan memenuhi pom bensin di sekitar ibu kota Colombo.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Wickremesinghe mengatakan Sri Lanka membutuhkan anggaran mendesak sebesar USD 75 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun untuk mengimpor barang-barang kebutuhan pokok.

"Saat ini, kita hanya punya stok bensin untuk satu hari. Beberapa bulan ke depan akan menjadi masa-masa paling sulit dari hidup kita," jelas Wickremesinghe dalam pidatonya, dikutip dari BBC, Rabu (18/5).

Namun, lanjutnya, pengiriman bensin dan solar menggunakan jalur pinjaman dari India bisa membantu pasokan BBM untuk beberapa hari ke depan.

Dia juga menyampaikan bank sentral harus mencetak uang untuk membayar gaji pemerintah, termasuk kemungkinan privatisasi Sri Lankan Airlines untuk menstabilkan keuangan negara.

"Ini tidak sesuai kehendak saya, tapi saya terpaksa mengizinkan pencetakan uang untuk membayar gaji pegawai negeri dan membayar pembelian bahan pokok dan berbagai layanan. Namun, kita harus ingat bahwa mencetak uang bisa menyebabkan depresiasi (penurunan nilai) rupee," jelasnya.

Wickremesinghe ditunjuk sebagai PM pekan lalu menggantikan Mahinda Rajapaksa yang mengundurkan diri. Mahinda Rajapaksa adalah kakak Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa yang dituntut mundur oleh rakyatnya melalui unjuk rasa massal dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah demonstrasi berujung kekerasan, di mana para pendukung pemerintah bentrok dengan para demonstran. Sembilan orang tewas dan 300 lebih terluka. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel