Krisis Energi Global Menghantui, Pakar Ingatkan Pembuatan Aturan Harus Tepat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Sejumlah negara di Eropa kekurangan pasokan energi yang mengakibatkan harga komoditas energi global melonjak dan menciptakan krisis energi.

Ancaman tersebut bisa saja juga terjadi di Indonesia. Pakar energi menilai pembuatan aturan mengenai energi harus tepat agar Indonesia tidak mengalami krisis energi.

Vice Chairman IGS, Salis Aprilian mengatakan saat membuat kebijakan energi harus memenuhi tiga prinsip.

Ketiganya yakni right policy in the right energy, in the right place, in the time. Artinya, pembuatan kebijakan perlu secara tepat sesuai potensi energi, potensi lokasi, dan waktu yang tepat.

“Misalnya di Nusa Tenggara itu tak punya minyak, tapi disana ada local energy, disana ada tanah yang luas, apakah itu bisa digunakan untuk solar cell,” jelas dia dalam di Jakarta, Minggu (10/10/2021).

Bila penerapan kebijakan sesuai dengan potensi di daerah penghasil energi maka kedepannya, dalam penerapan, tidak akan jauh dari potensi yang dimiliki daerah tersebut. Artinya, bisa memudahkan pengembangan energi.

“Semacam sidrap itu harus ada lagi, itu yang harus kita cari untuk kita buat policy nya,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Salis menyampaikan bahwa ada tiga poin yang jadi sorotan mengenai masalah manajemen energi global. Diantaranya, keamanan energi (Energy Security), energy Equity, serta environmental sustainability.

Tiga poin yang disebut sebagai Trilemma Index ini sebagai langkah penilaian bagi negara-negara penghasil energi. Tiga poin, ini kata Salis, bisa dikatakan sebagai index penilaian baiknya suatu kegiatan energi.

Sehingga pada akhirnya akan dinilai oleh Non-Government Organisation terkait pengelolaan energi, baik keamanan, kesetaraan, serta kemanfaatan jangka panjang.

“Itu sangat berbeda, kalau negara maju, di Eropa itu persentasinya skornya itu index-nya itu masing-masing faktor ini komponen ini sudah mendekati sempurna, kalau kita lihat di Afrika energi equity bagus, tapi keinginan kurang,” katanya,

Sementara itu, mengacu data yang ditampilkannya, perolehan di Asia masih cukup bagus namun masih berada di sisi bawah. Terkait penilaian ini, Indonesia berada pada urutan yang cukup baik, meski ada di bawah. “Posisinya di 58 dari 170-an negara,” jelas dia.

Dengan demikian, bisa diartikan bahwa tiga aspek penilaian tersebut masih perlu ditingkatkan di sektor energi di Indonesia.

Adopsi

Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Salis mencoba mengadopsi Trilemma Index ke dalam sektor pengembangan industri gas. Namun, dengan memodifikasi tiga komponen indeks menjadi Reserve (cadangan), Contract (harga), dan Buyers.

“Inilah yang mungkin kalau kita plot di Indonesia ini sangat bergantung pada infrastruktur yang ada, karena infrastruktur di kita masih minim,” tambah dia.

Ia juga data rencana pembangunan infrastruktur penunjang gas di Indonesia. Dengan menerapkan sudut pandang mengacu pada trilemma gas yang diadopsi.

Hasilnya, bisa menentukan kebijakan yang dibuat dalam rangka pengembangan potensi wilayah atau berdasar pada kekurangan yang tercatat.

“Kalau kita adopsi, misal kita lihat di Natuna dari Reserve-nya ada equity-nya, tapi pembelinya belum ada misalnya, nah dengan cara mem-plot ini bisa dilihat untuk membuat policy kedepan,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel