Krisis iklim itu nyata -- tapi pemakaian istilah “krisis” secara berlebihan bisa menghambat aksi iklim

Banjir di Pakistan
Foto yang diambil dari angkasa pada 1 September 2022 ini menunjukkan banjir di area perumahan usai hujan deras di Distrik Dadu, Provinsi Sindh, Pakistan. (Photo by HUSNAIN ALI/AFP via Getty Images)

“Krisis” adalah kata yang amat kuat. Menariknya, frasa “krisis iklim” belakangan ini seakan menjadi lingua franca, alias jamak digunakan warga dunia.

Dahulu, istilah ini hanya digunakan segelintir ilmuwan dan aktivis yang blak-blakan menyuarakan perkara perubahan iklim.

Namun, sejauh mana pemahaman orang-orang dengan istilah “krisis iklim”? Mengapa ini penting?

Sungai Jialing mengering
Foto dari angkasa yang diambil pada 24 Agustus ini menunjukkan mengeringnya Sungai Jialing, anak Sungai Yangtze, di Chongqing, China sehingga dasarnya terlihat jelas. (Photo by NOEL CELIS/AFP via Getty Images)

Pengarusutamaan bahasan seputar “krisis”

Saat ini, advokasi seputar perubahan iklim tak hanya muncul dari para akademikus ataupun aktivis lingkungan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres pun menggunakan istilah yang dramatis seperti “menggali kuburan kita sendiri” ketika membahas iklim. Dalam buku terbarunya, konglomerat sekaligus pegiat filantropi Bill Gates juga menyarankan kita untuk mecegah “bencana iklim”.

Pengarusutamaan istilah ini menandai perubahan dalam ‘perang wacana’ seputar iklim global. Semarak penolakan perubahan iklim, atau kerap disebut climate denialism, tengah munyusut.

Saat ini, perdebatan fokus pada aksi-aksi yang mesti dilakukan dan siapa yang bertanggung jawab.

Para ilmuwan, berbekal kredibilitas profesi mereka, menjadi tokoh kunci dalam wacana iklim. Para penulis utama laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) kian blak-blakan. Mereka rajin berbicara secara terbuka tentang kelaparan massal, kepunahan, dan bencana.

Para figur intelektual publik ini mengharapkan suara-suara mereka dapat menghentak warga, pelaku bisnis, maupun pemerintah untuk menggenjot aksi iklim. Namun sebenarnya, bagi kebanyakan warga biasa, perubahan iklim masih jauh dari kehidupan sehari-hari. Perkara ini tidak seperti “krisis” seperti pandemi Covid-19 yang berdampak secara langsung terhadap keseharian warga.

Tentu saja, banyak yang percaya bahwa para ilmuwan iklim sudah terlalu lama kurang lantang menyuarakan masalah ini.

Namun, istilah-istilah baru seperti “krisis”, “darurat”, “bencana”, “kerusakan” dan “malapetaka” yang tengah dipakai untuk menggambarkan kondisi iklim saat ini juga tidak menjamin pemahaman yang benar -– bahkan kredibel -– akan kondisi iklim bumi di antara masyarakat.

Penggunaan istilah seperti itu malah cenderung menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat.

Saat ini, memang tak banyak golongan masyarakat yang meragukan adanya perubahan iklim. Namun, istilah-istilah yang frontal tidak membantu dalam mengatasi kebuntuan perdebatan antara golongan yang ‘percaya’ dengan golongan yang ‘skeptis’, ‘realis’, ataupun ‘penyebar ketakutan’. Akhirnya, aksi iklim yang diupayakan justru tidak membawa perubahan politik berarti.

Karena itulah, kita perlu merumuskan terobosan yang lebih baik.

Empat ide perbaikan

Istilah ‘krisis iklim’ sebenarnya tetap bisa digunakan. Namun, para ilmuwan, guru, dan politisi harus cerdas.

Mereka perlu menyadari beragam persepsi yang bisa muncul di masyarakat ketika memakai istilah seperti “krisis”. Kesadaran seperti ini bisa memperbaiki komunikasi antara mereka dengan publik, sekaligus satu sama lain.

Berikut adalah empat hal yang perlu kita ingat bersama.

1. Kita harus menantang narasi seputar distopia dan keselamatan

Krisis dapat dikatakan terjadi ketika sesuatu berada dalam kondisi hancur lebur. Kita melihat berita tentang krisis setiap hari –- banjir di Pakistan, keruntuhan ekonomi di Sri Lanka, kelaparan di beberapa bagian Afrika.

Namun, “krisis iklim” bisa jadi terasa seperti sesuatu yang di luar jangkauan pengalaman sehari-hari, terutama bagi orang kaya. Situasi tersebut menimbulkan gap antara istilah dengan makna sebenarnya.

Akibatnya, orang-orang secara insting mengisi kekosongan ini dengan pandangan umum dan wawasan kultural.

Salah satunya adalah gagasan tentang kehancuran dunia, di mana hanya sedikit manusia yang bertahan. Buku suram penulis ternama Cormac McCarthy, yakni The Road adalah salah satu contohnya.

Inti dari banyak narasi apokaliptik adalah ide bahwa teknologi, beserta aksi heroik beberapa orang pemberani (biasanya laki-laki), akhirnya menjadi juru selamat. Kita melihat ini dalam film seperti Interstellar.

Masalahnya, penggambaran (yang acap kali fantastis) ini bukanlah penafsiran yang tepat dari hal-hal yang telah diperingatkan oleh para ilmuwan iklim. Kondisi sebenarnya jauh lebih rumit.

Kebakaran semak di Perth, Australia
Petugas pemadam kebakaran tengah berusaha memadamkan api dalam kebakaran semak di Copley Road, Upper Swan, Perth, Australia, 2 Februari 2021. (Photo by Paul Kane/Getty Images)

2. Kita harus mendekatkan krisis iklim dengan realita dan membuatnya jadi masalah yang mendesak

Sekalipun diakui sebagai krisis, masih banyak yang menganggap bahwa sebagian besar dampak perubahan iklim baru akan terasa di tempat lain atau di masa depan yang teramat jauh.

Misalnya, hilangnya daratan Tuvalu di Samudra Pasifik saat permukaan air laut naik merupakan krisis kehidupan bagi para warganya. Namun, meskipun tragis, hal tersebut mungkin tampak seperti masalah yang terpencil bagi orang-orang di Chicago, Oslo, atau Cape Town.

Nah, banjir baru-baru ini di Australia bagian timur dan gelombang panas di Eropa membuktikan: tidak ada tempat yang kebal dari dampak cuaca ekstrem saat planet memanas.

Masyarakat harus memahami bahwa pemanasan global akan memicu seabrek krisis berskala lokal hingga regional. Tidak akan ada satu ukuran global untuk krisis iklim seperti yang banyak ditayangkan di film Hollywood.

Segudang bala sudah ada di ambang pintu. Banyak pula petaka yang akan bertahan selama bertahun-tahun atau puluhan tahun. Sebagian besar di antaranya bahkan bisa menjadi jauh lebih buruk jika kita tidak bertindak sekarang. Upaya untuk membuat orang memahami ini sangatlah penting.

Tuvalu terancam perubahan iklim
Naiknya permukaan air laut mengancam eksistensi Tuvalu, negara pulau kecil di Pasifik Selatan. Negara berpenduduk 11.000 jiwa tersebut diklasifikasikan UNDP dalam kategori "sangat terancam" perubahan iklim. (Photo by Mario Tama/Getty Images)

3. Kita harus bisa menjelaskan: krisis apa?

Perdebatan seputar perubahan iklim menunjukkan kepada kita bahwa perdebatan tentang topik ini kini berwujud argumen seputar bukti-bukti ilmiah dan interpretasinya.

Krisis dapat dikatakan terjadi ketika suatu peristiwa berhubungan dengan nilai-nilai tertentu. Contohnya adalah hak masyarakat atas makanan yang memadai, perawatan kesehatan, dan tempat tinggal.

Ketika pemangku kepentingan menyebut istilah “krisis”, perlu ada penjelasan nilai-nilai seperti apa yang mendasari pertimbangan mereka bahwa suatu risiko, kerusakan, dan kerugian tidak dapat diterima.

Sejarawan, filsuf, sarjana hukum, dan pakar lain telah membantu kita berpikir lebih baik tentang nilai-nilai kita, dan apa yang sebenarnya kita maksud dari suatu “krisis”.

4. Kita harus mengakui bahwa banyak orang bisa jadi lebih peduli pada beragam krisis dan tantangan lainnya

Beberapa pihak tergoda untuk menjadi moralis dan menganggap bahwa krisis iklim begitu besar sehingga melampaui krisis lainnya. Anggapan ini bisa dimengerti, tapi sebenarnya tidaklah bijak.

Penting bagi kita untuk menghormati perspektif lain dan membicarakan langkah-langkah ke depannya.

Pertimbangkan, misalnya, argumen Bjørn Lomborg, seorang penulis asal Denmark. Ia mempertanyakan apakah krisis iklim benar-benar merupakan ancaman utama, ketika ada berbagai bencana dan penyakit lain yang merenggut nyawa banyak orang di seluruh dunia.

Lantaran ucapan tersebut, Lomborg dirundung banyak orang. Namun, tak sedikit orang yang memiliki argumen senada. Kita mungkin tidak setuju dengannya, tetapi pandangannya tidak mengada-ada.

Kita harus berusaha memahami bagaimana dan mengapa argumen semacam ini masuk akal bagi banyak orang.

Kata adalah senjata. Karena itulah, istilah penting seperti “krisis” dan “malapetaka” semestinya tidak menjadi perangkat retoris yang menyingkirkan makna sebenarnya saat kita berdebat tentang aksi iklim seperti apa yang harus diambil.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris