Krisis Kedelai

Untuk kedua kali sejak 2008, tahu dan tempe menghilang dari pasaran. Koperasi Perajin Tempe tahu Indonesia (KOPTTI) Jabodetabek serempak melakukan aksi mogok produksi pada Juli lalu. Mereka menuntut keseriusan pemerintah menanggulangi gejolak harga bahan baku tempe, yakni kedelai yang meroket dari Rp5500 menjadi Rp8200 per kilogram.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, 60 persen kedelai yang ada di tahu dan tempe di meja makan kita adalah produk impor, termasuk Amerika dan Cina. Indonesia baru bisa menghasilkan 800 ribu ton kedelai dalam negeri. Itu berarti sekitar 1,2 juta ton kedelai diimpor.

Tingginya permintaan produk turunan kedelai ternyata tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Setiap tahun tidak kurang dari 2,4 juta ton kedelai dikonsumsi masyarakat.  Akibatnya, serbuan kedelai impor semakin deras membanjiri Indonesia.

Pada 2008, pemerintah menargetkan 2014 Indonesia akan swasembada kedelai. Namun, target tersebut dinilai tak realistis. Pasalnya tahun demi tahun tak ada peningkatan produksi kedelai lokal. Pemerintah pun tidak memberikan instrumen dan insentif buat mendukung petani kedelai.

Dalam rencana kerja Kementerian Pertanian, untuk mencapai swasembada kedelai pada 2014, maka produksi harus mencapai 2,7 juta ton. Namun, upaya swasembada ini masih terkendala masalah lahan yang masih diusahakan oleh Kementerian Pertanian bersama Badan Pertanahan Nasional.

Akhirnya, pemerintah membebaskan bea masuk kedelai impor sebesar lima persen yang berlaku sampai akhir tahun. Keputusan ini tentu memberi kelegaan sebentar buat para perajin tahu tempe, namun tetap belum menjawab akar masalahnya yaitu meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...