Krisis Myanmar Telan 38 Jiwa, Ada Korban Diseret-seret Militer

Ezra Sihite
·Bacaan 1 menit

VIVA – Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkap hingga Rabu 3 Maret 2021, jumlah korban tewas akibat kekerasan di Myanmar hingga 38 orang. Kematian terjadi di tengah meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap para demonstran anti-kudeta di negara itu.

Kemarin media setempat mencatat setidaknya 17 kematian di seluruh Myanmar termasuk tujuh kasus kematian di wilayah Sagaing. Beberapa petugas medis juga mengaku melihat dua orang lainnya diseret oleh pasukan keamanan meski mereka tidak dapat memastikan apakah mereka juga meninggal dunia.

Di pinggiran pusat komersial Kota Yangon, setidaknya enam demonstran ditemukan tewas. Media lokal di negara bagian Kachin utara juga melaporkan adegan kekerasan serupa.

"Hanya hari ini 38 orang tewas. Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terakhir," kata utusan PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener seperti dikutip Channel News Asia.

Dia meminta PBB untuk mengambil tindakan yang keras dan tegas terhadap para jenderal militer Myanmar. Burgener mengaku dalam percakapannya dengan para pihak militer, mereka bahkan telah menepis ancaman sanksi yang dikeluarkan oleh dunia internasional.

Seperti diberitakan sebelumnya, Myanmar berada dalam kekacauan sejak 1 Februari 2021 lalu ketika militer menggulingkan pemerintahan sipil dan menahan pemimpin Aung San Suu Kyi. Tindakan ini pun mengakhiri satu dekade masa demokrasi, dan memicu terjadinya demonstrasi hampir setiap hari sejak kudeta.

Tekanan internasional pun meningkat di mana negara-negara Barat berulang kali mengganjar para jenderal militer dengan sanksi. Namun pemerintah militer sejauh ini mengabaikan kecaman globak tersebut dan justru menanggapi pemberontakan itu dengan meningkatkan tekanan militer di dalam negaranya.