KRL Beroperasi Normal, namun Kapasitas Dibatasi Hanya 35-40 Persen

Daurina Lestari, Willibrodus

VIVA – Layanan transportasi KRL Commuter Line hari ini telah mengembalikan frekuensi dan jadwal KRL di tengah masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar menuju kehidupan tatanan baru (new normal)

Vice President Corporate Communications PT KCI, Anne Purba, mengatakan, sejak Senin 8 Juni 2020, PT KCI telah mengoperasikan 935 perjalanan KRL per hari, bertambah 161 perjalanan dibandingkan frekuensi pada masa PSBB.

Sementara untuk jumlah pengguna yang diizinkan di dalam tiap kereta atau gerbong, PT KCI mengikuti aturan dari Kementrerian Perhubungan yang hanya mengizinkan untuk melayani 35-40 persen dari kapasitas per kereta. 

"Jika selama PSBB dapat melayani 60 pengguna per kereta, saat ini kami dapat melayani 74 penumpang per kereta, dengan membatasi masuk stasiun dan KRL, sehingga pengguna di stasiun-stasiun berikutnya juga dapat terlayani," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin 8 Juni 2020.

Pada hari Senin 8 Juni 2020 sekitar pukul 10 pagi tadi, PT Kereta Commuter Indonesia atau PT KCI mencatat volume pengguna KRL mencapai 140 ribu, dan pengguna yang telah melakukan tap masuk di gate elektronik mencapai 150 ribu orang.

Sementara untuk jarak antara kereta di lintas yang padat seperti Lintas Bogor telah dimaksimalkan hingga lima menit, sesuai infrasktur perkeretaapian yang tersedia. 

Dengan banyaknya masyarakat yang kembali beraktivitas dan kapasitas yang dibatasi untuk memungkinkan jaga jarak di dalam KRL, maka akan ada antrean terutama pada jam-jam sibuk.

"Di sejumlah stasiun, cukup banyak pula pengguna yang baru kembali menggunakan KRL setelah beberapa bulan beraktivitas dari rumah, sehingga belum terbiasa dengan protokol kesehatan yang ada," kata Anne.

Baca juga: Transisi PSBB, DKI Kesulitan Atur Physical Distancing di Halte Transit

Penerapan protokol kesehatan

Anne memastikan, PT KCI telah mempersiapkan beberapa tahapan operasional dan layanan hingga nanti keadaan dinyatakan dapat kembali normal sepenuhnya. Misalnya melalui peningkatan kapasitas angkut KRL yang diizinkan, namun dengan memperketat kelengkapan kesehatan yang harus dipenuhi pengguna saat naik KRL.

"Antara lain misalnya seperti pelindung wajah dan baju lengan panjang," ujar Anne.

Tahapan yang dirancang ini merupakan antisipasi volume penumpang yang terus meningkat setiap harinya. Selain itu, per hari ini KCI juga sudah menerapkan aturan pembatasan jam terkait penumpang lansia dan penumpang dengan barang dagangan, serta untuk balita sementara dilarang naik KRL. Hal itu melengkapi larangan berbicara selama berada di dalam KRL yang sebelumnya juga telah diterapkan. 

Selain menjaga jarak, pengguna juga harus mengikuti protokol kesehatan lainnya yaitu menggunakan masker, dan mengikuti pengukuran suhu tubuh. Pengguna juga disarankan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, sebelum maupun sesudah naik KRL.

"Untuk itu KCI telah menyiapkan wastafel tambahan di 80 stasiun agar penumpang dapat lebih mudah menerapkan kebiasaan cuci tangan ini," kata Anne.

"Kami juga telah mensosialisasikan berbagai aturan tambahan, protokol, dan kemungkinan kondisi masa kenormalan baru ini secara terus menerus sejak Februari, dan dimaksimalkan terus selama masa PSBB," ujarnya.