Kronologi 45 Tembakan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan

Merdeka.com - Merdeka.com - Komnas HAM menyampaikan hasil temuannya terkait tembakan gas air mata yang ditembakkan petugas usai laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). Gas air mata disinyalir penyebab suporter lari dan berdesakan di Pintu 13, akibatnya 135 orang tewas.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengungkapkan pihak yang melakukan penembakan gas air mata tidak hanya Brimob, tapi juga personel Sabhara.

"Jenis senjata yang digunakan untuk pelontar gas air mata adalah laras licin panjang. Kemudian amunisi yang digunakan selongsong kaliber 37-38 mm, Flash Ball Super Pro 44 mm, dan antiriot AGL kaliber 38 mm. Adapun amunisi gas air mata yang digunakan merupakan stok tahun 2019 dan telah expired atau kedaluwarsa," kata Beka di Jakarta, Rabu (2/11).

Beka mengatakan ada sekitar 45 tembakan gas air mata saat tragedi Kanjuruhan. Dari temuan tim, lanjut Beka, penembakan gas air mata tersebut tanpa koordinasi dengan Kapolres Malang namun atas diskresi dari masing-masing pasukan.

Beka menjelaskan jumlah amunisi yang terlihat dalam video sebanyak 30 amunisi yang bersumber dari 10 tembakan.

"Dari 45 total tembakan, 27 tembakan gas air mata terlihat dalam video. Sementara 18 tembakan lainnya terkonfirmasi lewat suara," tutur dia.

Penembakan 45 Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan

Berikut detik-detik 45 tembakan gas air mata yang dihimpun Komnas HAM.

Pukul 22.08 WIB

Penembakan gas air mata dimulai.

Pukul 22.08.59 WIB-22.09.08 WIB

Ada 11 kali tembakan gas air mata ke arah selatan lapangan. Setiap tembakan berisi 1 sampai 5 amunisi gas air mata.

Pukul 22.11.09 WIB dan 22.15 WIB

Aparat kembali menembakkan gas air mata sebanyak 24 kali. [ded]