Kronologi Awal Perang hingga Perjanjian Damai Azerbaijan dan Armenia

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Baku - Kesepakatan damai telah disepakati antara Armenia dan Azerbaijan, dua wilayah bekas republik Uni Soviet di wilayah Kaukasus.

Perjanjian ini mengakhiri pertempuran sengit selama berminggu-minggu, yang menewaskan ribuan orang dan mengakibatkan banyak warganya terlantar.

Kesepakatan damai, yang ditandatangani oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, berlaku mulai Selasa 10 November 2020 pukul 01.00 waktu setempat (Senin 9 November pukul 21.00 GMT ).

Wartawan BBC Orla Guerin di Baku mengatakan bahwa secara keseluruhan, kesepakatan itu berati kemenangan Azerbaijan dan kekalahan Armenia.

Selama pidato online yang disiarkan televisi, Presiden Putin mengatakan bahwa penjaga perdamaian Rusia akan dikerahkan untuk berpatroli di garis depan.

Kementerian Pertahanan Rusia mengkonfirmasi bahwa 1.960 personel akan terlibat, dan laporan yang beredar menyebut pesawat telah meninggalkan pangkalan udara di Ulyanovsk pada hari Selasa, membawa penjaga perdamaian dan mengangkut personel bersenjata lengkap ke Karabakh. Bagian dari peran mereka adalah menjaga "koridor Lachin", yang menghubungkan ibu kota Karabakh, Stepanakert, ke Armenia.

Turki juga akan mengambil bagian dalam proses pemeliharaan perdamaian, menurut presiden Azerbaijan, yang bergabung dengan Presiden Putin selama pidato tersebut.

Berikut ini kronologi perang atau konflik antara Azerbaijan dan Armenia, dikutip dari BBC, Rabu (11/11/2020):

Kronologi Awal

Pusat konflik adalah wilayah Nagorno-Karabakh. Area yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi dikendalikan oleh etnis Armenia.

Negara-negara tersebut melakukan perang berdarah di wilayah tersebut pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, dan menjadi pemicu bentrokan kekerasan pada tahun-tahun sesudahnya.

Nagorno-Karabakh adalah bagian dari Azerbaijan, tetapi populasinya mayoritas adalah Armenia. Ketika Uni Soviet dilanda peningkatan ketegangan di republik-republik konstituennya pada 1980-an, Nagorno-Karabakh memilih untuk menjadi bagian dari Armenia - memicu perang yang berhenti dengan gencatan senjata pada 1994.

Sejak itu, Nagorno-Karabakh tetap menjadi bagian Azerbaijan tetapi dikendalikan oleh etnis separatis Armenia yang didukung oleh pemerintah Armenia. Hingga saat ini, negosiasi yang dimediasi oleh kekuatan internasional gagal menghasilkan kesepakatan damai.

Armenia adalah mayoritas Kristen sedangkan Azerbaijan adalah mayoritas Muslim. Turki memiliki hubungan dekat dengan Azerbaijan, sedangkan Rusia bersekutu dengan Armenia - meskipun Turki juga memiliki hubungan baik dengan Azerbaijan.

Berebut Kendali

Kaukasus adalah wilayah pegunungan yang penting secara strategis di Eropa Tenggara. Selama berabad-abad, berbagai kekuatan di wilayah ini - baik Kristen maupun Muslim - bersaing untuk mendapatkan kendali di sana.

Armenia dan Azerbaijan modern menjadi bagian dari Uni Soviet ketika dibentuk pada 1920-an. Nagorno-Karabakh adalah wilayah mayoritas etnis Armenia, tetapi Soviet memberikan kendali atas wilayah tersebut kepada otoritas Azerbaijan.

Baru setelah Uni Soviet mulai runtuh pada akhir 1980-an parlemen regional Nagorno-Karabakh secara resmi memilih untuk menjadi bagian dari Armenia.

Azerbaijan berusaha untuk menekan gerakan separatis, sedangkan Armenia mendukungnya. Hal ini menyebabkan bentrokan etnis, dan - setelah Armenia dan Azerbaijan mendeklarasikan kemerdekaan dari Moskow - perang skala penuh.

Puluhan ribu orang tewas dan hingga satu juta orang mengungsi di tengah laporan pembersihan etnis dan pembantaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Kebanyakan dari mereka yang mengungsi dalam perang adalah orang Azerbaijan.

Pasukan Armenia menguasai Nagorno-Karabakh sebelum gencatan senjata yang ditengahi Rusia dideklarasikan pada tahun 1994. Setelah kesepakatan itu, Nagorno-Karabakh tetap menjadi bagian dari Azerbaijan, tetapi sejak itu sebagian besar diperintah oleh separatis, republik yang dideklarasikan sendiri, dijalankan oleh etnis Armenia dan didukung oleh pemerintah Armenia. Juga membentuk Nagorno-Karabakh Line of Contact atau Garis Kontak Nagorno-Karabakh, memisahkan pasukan Armenia dan Azerbaijan.

Mulai Perundingan Damai

Rakyat Azerbaijan mengibarkan bendera nasional dan Turki di Baku, Azerbaijan, Selasa (10/11/2020). Armenia dan Azerbaijan mengumumkan perjanjian damai untuk menghentikan pertempuran atas wilayah Nagorno-Karabakh di Azerbaijan berdasarkan pakta yang ditandatangani dengan Rusia. (AP Photo)
Rakyat Azerbaijan mengibarkan bendera nasional dan Turki di Baku, Azerbaijan, Selasa (10/11/2020). Armenia dan Azerbaijan mengumumkan perjanjian damai untuk menghentikan pertempuran atas wilayah Nagorno-Karabakh di Azerbaijan berdasarkan pakta yang ditandatangani dengan Rusia. (AP Photo)

Perundingan damai telah berlangsung sejak saat itu dimediasi oleh Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE) Minsk Group atau Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) Minsk Group - sebuah badan yang dibentuk pada tahun 1992 dan diketuai oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

Namun bentrokan terus berlanjut, dan gejolak serius pada tahun 2016 menyebabkan kematian puluhan tentara di kedua sisi.

Konflik tersebut semakin diperumit oleh geopolitik. Turki negara anggota NATO adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Azerbaijan pada tahun 1991. Mantan Presiden Azeri Heydar Aliyev pernah menggambarkan keduanya sebagai "satu bangsa dengan dua negara". Keduanya berbagi budaya dan populasi Turki.

Apalagi Turki tidak memiliki hubungan resmi dengan Armenia. Pada tahun 1993 Turki menutup perbatasannya dengan Armenia untuk mendukung Azerbaijan selama perang di Nagorno-Karabakh.

Sedangkan Armenia memiliki hubungan baik dengan Rusia. Ada pangkalan militer Rusia di Armenia, dan keduanya adalah anggota aliansi militer Collective Security Treaty Organization (CSTO) atau Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif. Namun, Presiden Vladimir Putin juga memiliki hubungan baik dengan Azerbaijan.

Pada 2018, Armenia mengalami revolusi damai, menyingkiran penguasa lama Serzh Sargysan dari tampuk kekuasaan. Pemimpin protes, Nikol Pashinyan menjadi perdana menteri setelah pemilu bebas tahun itu.

Pashinyan setuju dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev untuk mengurangi ketegangan dan mendirikan pos militer pertama antara kedua negara.

Pada 2019, kedua negara mengeluarkan pernyataan yang menyatakan perlunya "mengambil tindakan konkret untuk mempersiapkan penduduk untuk perdamaian".

Tetapi tahun ini, melihat bulan-bulan meningkatnya ketegangan dan pertempuran sengit di wilayah tersebut. Tidak jelas negara mana yang memulai tindakan kekerasan terbaru, yang dimulai pada Juli dan menimbulkan korban di kedua sisi.

Pemimpin Armenia di Nagorno-Karabakh, Arayik Harutyunyan, mengatakan gencatan senjata tidak terhindarkan setelah hilangnya kota terbesar kedua Karabakh, Shusha (dikenal sebagai Shushi dalam bahasa Armenia).

Pertempuran sudah berlangsung di pinggiran kota utama Karabakh, Stepanakert, dan jika konflik terus berlanjut, seluruh Karabakh akan hilang, katanya di Facebook. “Kami akan mengalami kerugian yang jauh lebih banyak,” katanya.

Di ibu kota Armenia, Yerevan, kerumunan besar berkumpul untuk memprotes kesepakatan tersebut, menurut media lokal. Mereka masuk ke gedung parlemen dan pemerintah, berteriak "Kami tidak akan menyerah."

Para pengunjuk rasa menggeledah kediaman resmi perdana menteri dan PM Pashinyan mengatakan mereka "mencuri komputer, jam, parfum, SIM, dan barang lainnya".

Kendati demikian, pertempuran berakhir pada November ketika kedua belah pihak setuju untuk menandatangani kesepakatan perdamaian yang ditengahi Rusia. Berdasarkan ketentuan dalam perjanjian tersebut, Azerbaijan akan mempertahankan beberapa daerah yang dikuasainya selama konflik, sementara Armenia akan menarik pasukan dari beberapa daerah yang berdekatan.

Presiden Putin mengatakan perjanjian itu akan mencakup pertukaran tahanan perang, dengan "semua kontak ekonomi dan transportasi akan dibuka."

Adegan kegembiraan pun dilaporkan terlihat di Azerbaijan.

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan bahwa keputusannya setuju dengan kesepakatan damai ut didasarkan pada "analisis mendalam tentang situasi pertempuran dan dalam diskusi dengan para ahli terbaik di bidangnya".

"Ini bukan kemenangan tapi tidak ada kekalahan sampai Anda menganggap diri Anda kalah," kata PM Pashinyan.

Saksikan Juga Video Ini: