Kronologi Diusirnya Moeldoko Saat Hadiri Aksi Kamisan di Semarang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mendapat penolakan keras saat hendak berbicara dengan kelompok massa aksi Kamisan di Semarang.

Kejadian tersebut berlangsung pada pagi hari tadi sekira pukul 11.00 WIB, Kamis (18/11/2021).

Melihat dari video yang diunggah Cornel Gea dari akun Twitter pribadinya, awalnya Moeldoko coba membuka komunikasi. "Ya teman-teman sekalian," kata Moeldoko.

Namun kalimat yang disampaikan Moeldoko langsung dimentahkan dengan teriakan massa aksi. Belum ada kata-kata lanjutan disampaikan, Moeldoko langsung diteriaki dan diusir.

"Pergi kami bukan teman-teman kalian, oligarki," lantang massa.

Moeldoko yang masih mencoba bertahan, mencoba kembali bersuara. Namun teriakan serupa dan memintanya pergi semakin keras.

Moeldoko pun akhirnya angkat kaki dan aksi massa Kamisan pun berlanjut.

Sebagai informasi, aksi itu berlangsung di Taman Signature, seberang Mall Paragon. Tidak ada bentrok saat kejadian tadi.

Moeldoko tidak sendiri, hadir bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihardi dan Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara.

Sudah 14 Tahun

Kamis 18 Januari 2007, menjadi hari pertama para aktivis dan keluarga korban menuntut penuntasan dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Aksi kerap dilakukan di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Hingga kini, 14 tahun sudah keluarga korban dan aktivis HAM menggelar aksi menuntut terangnya dugaan pelanggaran HAM berat yang terjadi di Tanah Air.

Aksi Kamisan sendiri tak hanya dilansungkan di Jakarta, melainkan juga kerap digelar di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat. Aksi Kamisan di Bandung ini sudah terselanggara selama 7 tahun. Aksi Kamisan juga digelar di Yogyakarta, Surabaya, Malang dan kota lainnya.

Serupa dengan di depan Istana Merdeka, Aksi Kamisan yang digelar di daerah lain juga menuntut penuntasan pelanggaran HAM berat. Beberapa di antaranya yakni Tragedi Semanggi, Trisakti, dan Tragedi 13-15 Mei 1998, Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Talangsari 1989 dan lain-lain.

Aksi Kamisan ini digagas oleh tiga keluarga korban dugaan pelanggaran HAM berat, yakni Maria Katarina Sumarsih, orangtua dari Bernardus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas pada November 1998 dalam Peristiwa Semanggi I.

Kemudian Suciwati, istri mendiang pegiat HAM Munir Said Thalib, dan Bedjo Untung, perwakilan dari keluarga korban pembunuhan, pembantaian dan pengurungan tanpa prosedur hukum terhadap orang-orang yang diduga PKI pada tahun 1965-1966.

Aksi Kamisan merupakan sebuah aksi lanjutan dari keberadaan Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) dalam menjalankan programnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel