Kronologi Kericuhan di Padang Ratu Lampung, Mes Karyawan Pabrik Sawit Dibakar Massa

Merdeka.com - Merdeka.com - Kericuhan hingga pembakaran terjadi di mes pabrik sawit milik PT Gunung Aji Jaya, Padang Ratu, Lampung Tengah, Lampung, Sabtu (19/11) kemarin. Polisi menyebut kericuhan itu dipicu masalah lahan Hak Guna Usaha (HGU).

Kapolres Lampung Tengah AKBP Doffie Fahlevi Sanjaya menjelaskan kronologi kericuhan hingga pembakaran mes karyawan tersebut. Menurut Doffie, pembakaran itu dilakukan masyarakat di lima kampung, yakni Kampung Gunung Aji, Gunung Raya, Negri Ratu, dan Negri Kepayungan, Kecamatan Pubian, lantaran menuntut pengembalian lahan milik PT. Gunung Aji Jaya yang terletak di Kampung Gunung Haji, Kecamatan Pubian karena dinilai telah habis HGU-nya sejak tahun 2015.

"Atas permasalahan tersebut sekelompok massa dari lima kampung di Kecamatan Pubian Lampung Tengah mengamuk dan membakar mes karyawan di tiga lokasi berbeda serta dua unit mobil milik PT Gunung Aji Jaya (GAJ)," kata Doffie dalam keterangannya, Minggu (20/11).

Doffie mengatakan, massa nyaris membakar dan menghakimi warga setempat yang merupakan karyawan PT Gunung Aji Jaya, selain membakar sejumlah peralatan milik perusahaan perkebunan sawit tersebut.

"Atas kesigapan petugas, warga yang disinyalir karyawan PT Gunung Aji tersebut berhasil dievakuasi ke Polres Lampung Tengah," kata dia.

Data Perusahaan

Dia menambahkan, dilihat dari bukti administrasi, maka lahan perkebunan sawit yang dipermasalahkan warga tersebut masih milik PT Gunung Aji Jaya.

"Secara legal, lahan masih merupakan milik PT. Gunung Aji Jaya, HGU telah diperpanjang sejak tahun 2016 sampai tahun 2040 dengan luas 493,63 ha dengan sebanyak 10 sertifikat, " ujar dia.

Dia menegaskan bahwa Polres Lampung Tengah telah melakukan pelbagai upaya memetakan dan mendeteksi permasalahan yang muncul atas kejadian ini. Bahkan sejumlah personel kepolisian mengajak perusahaan, tokoh masyarakat, dan para pihak yang memiliki kepentingan dalam permasalahan tersebut untuk bermusyawarah.

"Sat Binmas Polres Lampung Tengah telah melakukan edukasi dan sosialisasi kepada warga serta mendorong tokoh masyarakat, agama, dan pemerintah daerah untuk memberikan pemahaman terhadap legalitas perusahaan dan imbauan untuk tidak melakukan tindakan melanggar hukum," kata Doffie.

Dia mengatakan bahwa pihaknya bersama Bupati Lampung Tengah telah melakukan upaya mediasi dan memberikan edukasi kepada perwakilan masyarakat tentang status HGU tersebut.

"HGU tersebut telah diperpanjang dan berlaku hingga tahun 2040, untuk itu kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan-tindakan di luar aturan atau melanggar hukum," kata dia, dikutip Antara.

Situasi di Padang Ratu Aman dan Terkendali

Doffie mengatakan bahwa saat ini kondisi di PT Gunung Aji Jaya (GAJ), Padang Cermin, sudah aman dan terkendali usai kericuhan yang mengakibatkan mes dan mobil perusahaan dibakar massa.

"Saat ini situasi aman dan terkendali, kami sudah menempatkan sejumlah personel Samapta untuk melaksanakan patroli prioritas di lingkungan PT. Gunung Aji Jaya dan menempatkan personel Sat Brimobda di lokasi kantor dan areal perkebunan," kata dia.

Dia mengatakan bahwa dalam upaya penegakan hukum, pihaknya melakukan upaya represif dengan melaksanakan penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana yang terjadi dalam kericuhan pada Sabtu (19/11) di PT GAJ untuk selanjutnya diproses sesuai ketentuan perundang-undangan berlaku.

"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Untuk menjaga situasi tetap kondusif saat ini pengamanan masih kami lakukan di lokasi. Mohon doanya supaya persoalan segera selesai," ujar dia.

Dia menyebutkan akibat kejadian tersebut, sejumlah aset perusahaan seperti lima bangunan utama Kantor PT. Gunung Aji Jaya, satu unit kendaraan roda empat, satu unit truk, bangunan gudang pupuk, dan dua pos satpam dirusak massa.

"Sampai dengan saat ini, situasi aman terkendali dan anggota kepolisian dan TNI masih berjaga di lokasi," kata dia.

Dia mengatakan bahwa Polres Lampung Tengah telah melaksanakan pengamanan terpadu bersama dengan TNI dan Satpol PP di setiap kegiatan aksi unjuk rasa damai yang digelar masyarakat sejak dari kecamatan hingga ke kabupaten.

"Kejadian pada Sabtu (19/11) dipicu karena masyarakat merasa kecewa atas lamanya respons dan belum adanya solusi pada permasalahan lahan hak guna usaha (HGU)," kata dia.

Kemudian, lanjut dia, massa yang kecewa melampiaskan kemarahan, melakukan perusakan, dan pembakaran aset Perusahaan PT. GAJ.

"Pada peristiwa ini, kami melakukan pengamanan dengan melibatkan pasukan TNI, Brimob, dan didukung Polda Lampung untuk bersiaga di lokasi kejadian," kata dia.

[gil]