Kronologi operasi KPK terkait dugaan suap impor daging

MERDEKA.COM,

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan anggota DPR berinisial LHI yang diduga Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq terlibat dugaan suap kasus daging impor dengan PT Indoguna Utama (PT UI). KPK mengaku sudah memiliki dua alat bukti cukup untuk menetapkan Luthfi sebagai tersangka.

Menurut Juru Bicara KPK Johan Budi Sapto Prabowo, KPK menerima informasi akan ada serah terima uang (suap) kepada Luthfi Hasan berkaitan dengan impor daging.

"Selasa pagi tim membuntuti AF. Kita peroleh informasi ada serah terima uang di kantor PT IU (Indoguna Utama). Di PT IU, saat itu sudah ada JE dan AAE (Direktur PT IU). Kemudian uang diterima AF," kata Johan dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (30/1).

Kemudian, setelah bertemu AAE dan JE di PT IU, Ahmad kemudian pergi ke Hotel Le Meridien. Dia akan bertemu seseorang di tempat itu. JE dan AAE pun meninggalkan kantor PT Indoguna Utama.

"Setelah uang ada di AF, kita tangkap pukul 20.20 WIB di hotel. AF ditangkap bersama seorang perempuan muda berinisial M saat keluar hotel. Kita tangkap juga sopir AF," lanjut Johan.

Tidak lama kemudian, KPK menangkap AAE dan JE alias D, di rumah AAE di kawasan Taman Cakung. Keduanya ditangkap sekitar pukul 22.30 WIB.

Menurut Johan, dari hasil gelar perkara hari ini, disimpulkan KPK sudah menemukan dua alat bukti cukup dugaan suap dilakukan oleh JE dan AAE kepada AF.

"Kemudian kita temukan 2 alat bukti cukup yang berkaitan dengan anggota DPR dengan inisial LHI," ucap Johan.

Dari gelar perkara hari ini juga, KPK menyimpulkan ada dugaan terjadi tindak pidana korupsi berupa suap, berkaitan dengan proses impor daging. Dari ekspose, AAE dan JE sebagai pemberi suap diduga melanggar pasal 5 ayat 1 atau pasal 13 Undang-Undang nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana..

KPK juga menemukan AF dan LHI diduga melanggar pasal 12 a atau b, atau pasal 5 ayat 1 dan 2, atau pasal 11 Undang-Undang nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana..

"Barang bukti yang disita uang Rp 1 miliar, terdiri dari pecahan Rp 100 ribu. Uang ini ditemukan di mobil AF. Diduga uang ini akan dipakai buat menyuap LHI," kata Johan.

KPK juga menyita sejumlah buku tabungan, dan beberapa dokumen di kantong plastik hitam di jok belakang mobil AF. Sampai saat ini, penyidik KPK masih memeriksa AF, JE, AAE, dan M. KPK berjanji bakal mengirim surat pencegahan terhadap LHI dalam 1x24 jam.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.