KSO WIKA raih kontrak konstruksi pembangunan gedung riset di UGM

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 3 menit

Konsorsium PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (KSO WIKA) menandatangani kontrak pelaksanaan pembangunan paket 1 JICA Loan IP-576 UGM, Gedung Smart and Green Learning Center (SGLC) dan Engineering Research Innovation Center (ERIC) Fakultas Teknik (FT) Universitas Gajah Mada (UGM), di Yogyakarta.

"WIKA berbangga bisa menjadi bagian dalam pembangunan pembangunan universitas kelas dunia yang mengembangkan kewirausahaan sosial seperti halnya UGM. InsyaAllah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan," ujar Direktur Operasi III WIKA Sugeng Rochadi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Proyek dengan nilai Rp218,79 miliar itu ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen atas nama Kementerian Pendidikan & Kebudayaan (Kemendikbud) Robby Wijanarko dan atas nama KSO WIKA Yulianto, serta turut disaksikan oleh Direktur Sumber Daya Kemendikbud Mohammad Sofwan Effendi, Wakil Rektor bidang Sumber Daya Manusia dan Aset UGM Bambang Agus Kirinoto, Direktur Operasi III Perseroan Sugeng Rochadi, Tim Project Implementation Unit (PIU), Tim Kelompok Kerja (Pokja), Tim Consultant Services JICA, serta representatif perseroan yang tergabung dalam konsorsium.

KSO WIKA mendapat kepercayaan sebagai pelaksana pembangunan SGLC dan ERIC Fakultas Teknik UGM itu berdasarkan evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi dan verifikasi oleh Kemendikbud.

Rencananya proyek ini akan berlangsung selama 540 hari kerja dengan masa pemeliharaan selama 360 hari kerja. Lingkup pekerjaan konsorsium meliputi struktur, arsitektur, mekanikal, elektrikal, dan plumbing.

Baca juga: WIKA pecahkan rekor lokakarya keteknikan terlama & dengan peserta terbanyak

Proyek yang berlokasi di bilangan Bulak Sumur, Yogyakarta ini merupakan tindak lanjut UGM atas kepercayaan sebagai Unit Pengimplementasi (Implementing Agency) sesuai dengan Loan Agreement No. IP-576 Tahun 2017 antara JICA dengan Pemerintah Indonesia. Implementasi loan JICA tersebut dimanfaatkan dalam pembangunan dan penyediaan sarana prasarana di kampus UGM yang tersebar di 8 fakultas.

Pembangunan gedung SGLC dan ERIC dengan KSO WIKA sebagai kontraktor pelaksananya, didesain untuk memiliki beberapa keunggulan, antara lain berstandardisasi green building platinum & smart building, mengimplementasikan sistem teknologi peredam gempa dan IT dalam proses konstruksi, serta mengedepankan sinergi kemitraan dalam pembangunannya.

Kolaborasi dan sinergi kompleks kesemuanya itulah yang kemudian diharapkan menjadi keunggulan pembelajaran bagi 15.000 mahasiswa Fakultas Teknik UGM khususnya dan civitas akademika UGM pada umumnya.

Baca juga: WIKA: Teknologi BIM mampu realisasikan konsep kota cerdas komprehensif


Teknologi terkini

Dalam proses konstruksinya ke depan, proyek ini akan menerapkan teknologi peredam gempa dengan sistem viscoelastis vibration rubbers dampers pertama di Indonesia.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan dan kalkulasi mitigasinya adalah rawan gempa di wilayah Yogyakarta.

Dijelaskan, viscoelastis vibration rubbers dampers merupakan sebuah sistem kontrol getaran atau peredam yang terdiri dari tiang penguat tegang dan karet viscoelastic yang mempunyai kekerasan yang tinggi.

Baca juga: WIKA selalu hadir dan partisipatif dalam membangun Indonesia

Karet di sini merupakan karet dengan kekerasan tinggi dan berkarakter sifat seperti: kekakuan besar, suhu kecil, dan ketergantungan frekuensi dibandingkan dengan sebagian besar peredam viscoelastic biasa.

Lebih lanjut gaya penegang yang dimasukkan ke dalam tiang penguat akan mengurangi celah kecil pada bagian-bagian sambungan dan sistem ini memiliki kinerja untuk menyerap energi dalam kisaran amplitudo/getaran mikro hingga besar.

Implementasi teknologi peredam gempa tersebut, semakin mempertegas portofolio WIKA, yang sebelumnya telah berhasil membangun high rise building berteknologi peredam gempa dengan sistem base isolator, antara lain WIKA Tower Jakarta, Gedung Prasarana Jalan (Padang), dan Rumah Sakit UI Depok.

Baca juga: Menteri PUPR harap hasil workshop jadi kompas WIKA majukan perusahaan