KSP Anggap Pembangunan Dua Bandara di Maluku Mendesak

Fikri Halim, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kantor Staf Presiden (KSP) menilai pembangunan dua bandara di Kepulauan Maluku yakni Bandara Namrole di Pulau Buru Selatan dan Namlea di Pulau Buru mendesak dilakukan.

Menurut Deputi I Kepala Staf Kepresidenan, Febry Calvin Tetelepta, pembangunan dua bandara itu akan membuka konektivitas dan mengatasi keterisolasian antar pulau.

"Sehingga bisa membuka pertumbuhan ekonomi baru di wilayah lainnya di Maluku," tutur Febry saat memimpin Rapat Percepatan Pembangunan Infrastruktur Bandara Namrole dan Bandara Namlea di Jakarta, Kamis 4 Februari 2021.

Rapat itu dihadiri perwakilan Kementerian Perhubungan, pengelola Bandara, hingga kepala daerah dua wilayah itu. Febry pun menegaskan, pembangunan bandara mampu mengatasi penumpukan masyarakat serta pergerakan ekonomi yang hanya berpusat di Kota Ambon. Apalagi, lanjut dia, masih banyak wilayah lain di Maluku yang punya kekayaan, baik sumber daya alamnya di darat dan di laut, selain pariwisata.

"Dengan transportasi yang lancar dan mudah maka pasti akan menumbuhkan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah tersebut dan sudah pasti kehidupan dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat," tutur Febry.

Secara rinci, dia memaparkan pentingnya perluasan Bandara Namlea, terutama dengan menambah panjang lintasan dari 1.600 meter menjadi 2.259 meter. Sehingga, sebagai bandara penyangga bisa memfasilitasi pendaratan pesawat jenis Boeing 737. Selain itu, bandara ini juga dapat membuka konektivitas dari Pulau Buru ke Kendari atau Makassar tanpa perlu ke Ambon.

Pemerintah Kabupaten Buru sendiri bersedia membebaskan lahan seluas 160 hektare dan siap diserahkan kepada Kementerian Perhubungan sebagai Aset Negara. Hal serupa juga berlaku bagi Bandara Namrole. Bandara ini dalam proses perluasan lintasan pacu dari 950 Meter menjadi 1.600 meter.

Bupati Buru Selatan, Tagop Souliss mengatakan, pihaknya juga telah melakukan pembebasan lahan untuk merealisasikan perluasan Bandara Namrole.

"Dengan begitu, bandara ini menjadi sarana strategis dan penting bagi mobilitas masyarakat dari dan ke Namrole apalagi saat musim ombak. Selain itu, bandara Namrole dapat difungsikan jika terjadi bencana alam yang sangat rentan di Pulau Buru," kata Tagop.

Baca juga: USU Dalami Pelanggaran Kode Etik Prof Yusus soal Dugaan Rasisme