KSP: Stok bawang di Bima penting untuk kendalikan inflasi nasional

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan ketersediaan bawang merah di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi faktor penting untuk mengendalikan inflasi nasional karena sebagian besar hasil panen didistribusikan ke wilayah lain.

"Bawang merah termasuk komoditas yang memengaruhi inflasi di Indonesia," kata Moeldoko saat mengikuti panen bawang merah di Desa Sai, Kecamatan Soromandi, Bima, NTB, Selasa, sebagaimana dikutip dari keterangan Kantor Staf Presiden (KSP) diterima di Jakarta.

Kabupaten Bima, kata Moeldoko, merupakan daerah potensial penghasil bawang merah. Dari 18 kecamatan di Bima, sebanyak 16 di antaranya, termasuk Kecamatan Soromandi, merupakan sentra produksi tanaman hortikultura tersebut.

Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Bima, yang dipaparkan KSP, saat ini luas panen bawang merah di 16 kecamatan mencapai 1.345 hektare dengan tiga kali masa panen dalam setahun.

Sekali panen, produksi bawang merah mencapai 5—6 ton per satu hektare. Dari hasil panen itu, sebanyak 70 persen untuk memasok sejumlah wilayah di Indonesia dan 30 persen untuk kebutuhan lokal.

Moeldoko mengatakan bahwa saat ini stok bawang merah di Bima dalam kondisi aman.

"Laporan dari Dinas Pertanian (Bima) tadi, sejauh ini pasokan masih aman dan harganya cukup baik. Kisaran Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram," kata Moeldoko.

Moeldoko juga meminta petani untuk meningkatkan produksi bawang merah dengan merawat tanaman secara baik.

"Mari bertani untuk kehidupan, bukan bertani untuk sekadar hidup," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Bima Nurma mengungkapkan masih terdapat persoalan yang dialami oleh petani bawang merah, yakni ketersediaan pupuk subsidi

"Kalau bisa alokasi pupuk subsidi untuk petani bawang merah di sini ditambah agar produksi juga bisa lebih ditingkatkan," kata Nurma.

Baca juga: Mentan tegaskan tak kurangi pupuk bersubsidi demi tingkatkan produksi
Baca juga: Mentan panen raya bawang merah seluas 300 hektare di Kulon Progo