KSPI Tolak Penambahan Empat Komponen KHL

Jakarta (ANTARA) - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia menyatakan penolakan atas penambahan empat komponen dalam revisi yang dilakukan pemerintah terhadap Permenakertrans No.17/2005 tentang penghitungan Komponen Hidup Layak sebagai dasar perhitungan Upah Minimum (UM).

"Seluruh serikat pekerja di Tripartit Nasional sama sikapnya, menolak penambahan empat item (komponen) itu karena tidak sesuai dengan harapan," kata Presiden KSPI Said Iqbal di sela-sela rapat pleno Tripartit Nasional di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans), Jakarta, Senin.

Said mengatakan penambahan empat komponen dalam perhitungan KHL yaitu ikat pinggang, kaos kaki, deodorant dan seterika itu hanya akan menambah besaran upah minimum (UM) antara Rp15-Rp20 ribu, jumlah yang dinilai tidak signifikan untuk melakukan peningkatan kesejahteraan pekerja.

"Penambahan empat `item` itu cuma sekitar Rp15-20 ribu, itu sama saja tidak naik terutama di daerah-daerah yang padat industri seperti Bekasi atau Batam. Jadi ini tidak menyelesaikan masalah, malah menambah. Ini ibaratnya akal-akalan pemerintah agar terlihat ada perubahan padahal sama saja," ujarnya.

KSPI juga mengancam akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran pada tanggal 12 Juli yang akan datang jika penolakan mereka terhadap revisi yang tengah berlangsung saat ini tidak diakomodasi oleh pemerintah.

"Jika 12 Juli belum ada perubahan, kita akan kerahkan 50 ribu buruh di 15 provinsi untuk demo di Menko Perekonomian dan Kementerian Tenaga Kerja (dan Transmigrasi). Harapannya, sebelum tanggal 12 Juli, Presiden dapat memanggil menteri-menteri yang terkait untuk membahas masalah ini," paparnya.

Said juga menuduh "fact finding" yang dilakukan oleh Dewan Pengupahan Nasional (Depenas) yang menjadi dasar revisi KHL cacat secara ilmiah karena tidak mengikuti metode penelitian yang semestinya.

"Dari empat item, hanya satu item yang ditemukan dari `fact finding` yaitu deodorant, sisanya didapat melalui forum komunikasi," katanya.

Selain itu, Said menilai hasil penelitian Depenas tidak valid karena hanya melibatkan 24 persen dari 3.000 responden yang disebutnya "cacat" karena tidak mewakili dan bahwa "fact finding" itu tidak dilakukan di daerah padat industri seperti Bekasi, Batam, Tangerang, Jakarta Timur dan Sidoarjo.


Sebelumnya, Depenas telah menyampaikan rekomendasi untuk revisi Permenakertrans No.17/2005 tentang penghitungan Komponen Hidup Layak sebagai dasar perhitungan Upah Minimum (UM) yaitu upah terendah yang diperuntukkan bagi pekerja lajang dengan masa kerja kurang dari satu tahun.


Depenas memberikan rekomendasi bagi perubahan komponen KHL yang terdiri atas empat penambahan jenis KHL, delapan penyesuaian/penambahan jenis dan kualitas KHL dan satu perubahan jenis kebutuhan KHL.

Empat penambahan jenis KHL adalah ikat pinggang, kaos kaki, deodorant dan seterika sedangkan delapan penyesuaian/penambahan jenis dan kualitas KHL terdiri dari sajadah/mukenah/peci, celana panjang/rok/pakaian muslim, sarung/kain panjang, sewa kamar sederhana, kasur busa, bantal busa, bola Lampu Hemat Energi (LHE) dan listrik.

Satu perubahan jenis kebutuhan KHL adalah dari kompor minyak tanah 16 sumbu menggunakan minyak tanah menjadi kompor gas satu tungku beserta selang dan regulator, tabung gas 3 kilogram, gas elpiji dua tabung masing-masing 3 kilogram.

Hasil rekomendasi itu kemudian dibawa ke Tripartit Nasional untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut dari segi hukum dan regulasi dan untuk menerima masukan lainnya yang diadakan di Gedung Kemnakertrans, Jakarta, Senin sore.

"Sidang pleno ini diadakan untuk persiapan dan langkah-langkah dari sisi hukum dan regulasi, misalnya apakah perubahan Permenakertrans ini akan segera digunakan untuk survei Upah Minimum 2013 yang surveinya dimulai bulan Juli ini," ujar Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Irianto Simbolon ketika membuka sidang. (tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.