KTB Fuso nilai truk berstandar Euro 4 bisa diterima pasar dengan baik

Director of Sales & Marketing Division PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Duljatmono memandang bahwa jajaran kendaraan niaga Mitsubishi Fuso dengan standar regulasi Euro 4 yang belum lama ini diluncurkan oleh pihaknya dapat diterima dengan baik oleh pasar.

Pada Maret, KTB memperkenalkan 29 lini produk bermesin diesel Euro 4 yang terdiri dari 15 varian Canter (light duty truck/LDT) dan 14 varian Fighter X (medium duty truck/MDT). Dua kelas kendaraan tersebut merupakan transformasi dari produk terlaris Colt Diesel dan Fighter.

Euro 4 merupakan standar emisi gas buang kendaraan diesel yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Standar tersebut sudah diterapkan per April dan diatur melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017.

Salah satu indikator Euro 4 adalah penggunaan engine common-rail. Menurut Duljatmono, bekal teknologi tersebut sebetulnya sudah digunakan pada kelas Fighter sebelumnya yang dipasarkan sejak 2018, terutama saat dipasarkan di wilayah Sumatera.

Baca juga: Fuso buka diler baru di Banjarmasin untuk tangkap potensi pasar

"Penerimaan pasar (pada saat itu) sangat baik sehingga sekarang ketika sampai di Euro 4 ini, kami sudah punya image dan respon yang baik oleh pasar (market). Dan kendaraan dengan mesin common-rail sudah kami jual terlebih dahulu," kata Duljatmono di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (29/6).

Kendaraan berstandar Euro 4 memang terdapat peningkatan harga, namun ia menilai bahwa harga pada varian baru Mitsubishi Fuso masih bisa diterima oleh konsumen. Duljatmono mengingatkan bahwa sebetulnya harga bersifat relatif atau sangat ditentukan oleh kondisi pasar.

Standar Euro 4 juga mengharuskan kendaraan diesel menggunakan bahan bakar dengan kadar sulfur di bawah 50 ppm. Di Indonesia, Pertamina dalam hal ini juga telah menyediakan produk Pertamina Dex yang sesuai dengan standar tersebut. Namun Duljatmono mengatakan bahwa ketersediaan bahan bakar tersebut dapat berbeda-beda di setiap daerah.

Business Manager PT Barito Berlian Motor Rudy Lim mengatakan konsumen di kota-kota besar biasanya tidak menemukan kendala untuk mendapatkan bahan bakar berstandar Euro 4. Namun ia juga mencatat bahwa kendaraan diesel umumnya tersebar di wilayah pinggiran yang masih belum menyediakan Pertamina Dex.

"Kalau kota-kota besar terutama (tidak masalah). Cuma kalau pinggiran ini, mungkin kami agak khawatir sedikit karena kondisinya seperti itu," kata Rudy.

Sebelumnya juga pada Rabu (29/6), KTB bersama PT Barito Berlian Motor membuka diler baru di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Menurut Duljatmono, salah satu pendorong pembukaan diler karena potensi pasar yang terus bertumbuh di Kalimantan.

Terdapat tiga sektor bisnis di Kalimantan yang mendukung permintaan kendaraan niaga Mitsubishi Fuso, antara lain logistik atau pergudangan, pertambangan terutama batu bara, serta perkebunan sawit. Menurut Duljatmono, ketiga sektor tersebut mendorong permintaan yang cukup kuat terhadap dua kelas kendaraan Mitsubishi Fuso berstandar Euro 4.

Dua varian Canter di kelas LDT, yaitu FE 74 HD dan FE 75 Super HD, kata Duljatmono, menjadi primadona konsumen Kalimantan masing-masing di sektor logistik dan perkebunan sawit.

"Dua tipe itu yang di kelas Canter dominan sampai saat ini. Selain memang karena dominan, permintaan (demand) pasar yang trennya juga tumbuh," ujarnya.

Sementara sektor tambang didominasi oleh permintaan dari kelas MDT, seperti varian 6x4. Khusus di Banjarmasin, permintaan terhadap varian 4x2 dan 6x2 untuk kelas Fighter X juga cukup tinggi yang juga menjadi kontributor penjualan Mitsubishi Fuso dari konsumen di sektor logistik.


Baca juga: Kalimantan sumbang 12 persen pasar Mitsubishi Fuso

Baca juga: KTB buka diler baru Mitsubishi Fuso di Lampung

Baca juga: Bahan bakar yang cocok untuk mesin diesel Euro 4

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel