KTT G20 jadi optimisme baru bagi pelaku budaya bangkit dari pandemi

Pegiat budaya sekaligus Dewan Penasihat Ikatan Alumni Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) Cyntia Handy mengatakan bahwa pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Indonesia menjadi optimisme baru bagi pelaku budaya agar mampu bangkit dari pandemi.

"KTT G20 menjadi optimisme baru bagi masyarakat Indonesia bangkit dari pandemi, terutama para pelaku budaya," kata Cyntia saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.

Menurut dia optimisme itu tercermin dari banyaknya kebudayaan Indonesia yang ditampilkan dalam rangkaian kegiatan G20, termasuk pada puncak acara KTT G20 yang berlangsung di Bali.

"Setelah pandemi, kegiatan ini menjadi surga bagi para pelaku kebudayaan. Jika bukan budaya, apalagi yang akan ditunjukkan negara kita? Budaya kita tidak akan dimiliki negara lain," ujar Cyntia.

Baca juga: Budayawan apresiasi gagasan GACRF pada Presidensi G20Indonesia

Baca juga: Suguhan atraksi budaya untuk delegasi KTT G20

"Teknologi dan kepintaran lainnya akan terus berlomba-lomba dan tidak ada habisnya, yang membedakan secara fakta adalah peradaban bangsa kita yang diwariskan dari leluhur kita," imbuhnya.

Salah satu yang disorot Cyntia adalah pertunjukan budaya yang menampilkan lagu-lagu hingga tarian tradisional saat jamuan makan malam pada Selasa (15/11).

Di acara tersebut, sejumlah pemimpin dunia juga terlihat mengenakan busana bernuansa wastra Nusantara.

"Pertunjukan sangat elok. Melihat masa lalu, pada umumnya perhelatan makan malam dilakukan dengan formal dan kaku, tapi di tangan Indonesia yang berbasis kreativitas dan kebudayaan, maka semua dapat dinikmati secara fun tanpa kehilangan kekhusyukannya," ucap Cyntia.

"Semoga momen seperti ini bisa menjadi pengingat bagi bangsa-bangsa lain bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar akan budayanya," katanya.

Cyntia juga menilai bahwa dalam Presidensi G20, Indonesia berhasil menunjukkan jati dirinya. Slogan Recover Together, Recover Stronger, menurutnya merupakan implementasi nilai gotong royong yang merupakan kebudayaan Indonesia. Lambang gunungan juga dinilainya sebagai strategi politik kebudayaan yang sangat elok.

"KTT G20 di tahun 2022 ini merupakan tantangan tersendiri, tapi Indonesia kali ini benar-benar menunjukkan taring macan Asia kepada pemimpin dunia yang hadir mengenai siapa jati diri Indonesia, yang dijawab dengan keindahan alam, budaya, dan masyarakatnya," ujar Cyntia.

Baca juga: Kemenko PMK: G20 dorong penguatan budaya sebagai perekat antarbangsa

Baca juga: Pengamat: G20 mendorong penguatan budaya untuk hidup berkelanjutan