Kuasa Hukum Korban First Travel Ditemukan Tak Bernyawa

Lis Yuliawati, Zahrul Darmawan (Depok)

VIVA – Hakim Pengadilan Negeri Depok, terpaksa menunda sidang pembuktian saksi dari pihak korban First Travel, Selasa 13 Agustus 2019. Sebab, kuasa hukum para korban, yakni Riesqi Ramadiansyah meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi, selang satu hari sebelum sidang dimulai atau tepatnya pada Senin sore, 12 Agustus 2019.

Alasan penundaan sidang, merujuk pada permohonan sejumlah korban. Hakim pun mengabulkan, sidang akhirnya ditunda hingga tiga pekan.

“Kami minta sidang ditunda dan dikabulkan majelis hakim,” kata Eli, salah satu korban perusahaan umrah tersebut, saat ditemui di luar ruang pengadilan.

Menurut Eli dan sejumlah korban lainnya, pengacara yang selama ini membela mereka itu tutup usia, karena mengalami stroke ringan. “Beberapa bulan lalu sih, kami sudah dengar mas Riesqi idap penyakit itu,” katanya.

Kabar duka yang secara tiba-tiba itu diterima Eli dan para korban lainnya, kemarin, sekira pukul 17.30 WIB.

Sementara itu, adik kandung Riesqi, Aldi Raharjo mengatakan, sang kakak menderita penyakit tersebut sejak sebulan lalu dan diduga kondisinya semakin parah usai makan daging saat Idul Adha lalu.

“Saat saya pulang mau laporan, saya ketok pintu kamarnya, tapi enggak ada jawaban,” kata Aldi.

Karena curiga setelah menunggu lebih dari dua jam sang kakak tak juga keluar, akhirnya Aldi mendobrak pintu kamar sekira pukul 16.00 WIB. Saat itu, Riesqi ditemukan tergeletak di kasur.

Panik, Aldi kemudian melarikannya ke rumah sakit terdekat. Namun, nyawanya tak tertolong. “Menurut dokter, sudah meninggal sejak dua jam sebelum dibawa ke rumah sakit," ujarnya.

Jasadnya kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan pada hari ini. 

Untuk diketahui, sebagai tim kuasa hukum korban First Travel, Riesqi dikenal cukup konsisten menuntut keadilan atas aset sejumlah calon jemaah yang disita oleh kejaksaan. 

Beberapa waktu lalu, Riesqi, bahkan sempat berencana akan mendampingi sejumlah klienya menggeruduk Istana Bogor, guna menuntut keadilan tersebut. (asp)