Kuasa Simbolik dalam Stigmatisasi Selera Musik

Syahdan Nurdin, arifpuisi-68
·Bacaan 4 menit

VIVA – Dalam perbincangan sehari-hari sering saya temui, terutama saat nongkrong di kedai kopi, ketika ada seorang teman menyatakan suka musik dangdut, koplo, atau musik-musik pantura sebagian orang menyebutnya, maka akan ada yang mengolok-olok: "selera musikmu kok rendah, mbok ya suka musik yang berkelas gitu lho, musik jazz atau rock, yah minimal pop kreatif lah".

Hal ini sering membuat saya bertanya-tanya ke diri sendiri, mengapa Ada orang menyukai musik rock, pop, dangdut, keroncong, jazz, dan genre-genre lainnya? Dari manakah datangnya selera musik ini?

Dan ternyata jawabannya datang dari Filsafat. Ada dua orang filsuf yang menjelaskan hal ini dan penjelasan keduanya berbeda secara substantif.

Filsuf yang pertama, Immanuel Kant, menyatakan bahwa selera seni termasuk musik adalah ‘murni’ keindahan yang bersifat apriori (tanpa kepentingan, tanpa konsep, tanpa tujuan dan niscaya).

Yang kedua bernama Pierre Bourdieu. Ia lebih melihat selera seni termasuk musik “sebagai sebuah keputusan estetis” merupakan produk dari adanya perbedaan kelas ketimbang pengakuan atas standar kualitas.

Pada suatu waktu, Bourdieu memberikan berbagai macam foto kepada orang-orang dari tiga kalangan: bawah, menengah, dan atas.

Dari sekian banyak foto itu, masing-masing responden diminta untuk memilih, mana foto yang paling indah, dan mana foto yang paling buruk? Rupanya, ada kecenderungan bahwa orang dari kelas sosial sama akan memilih foto yang sama. Mereka memiliki selera yang sama, di luar kontrol individu.

Oleh karena itu, Bourdieu menyebutkan bahwa ada tiga hal yang menentukan selera kita: Habitus, Modal, dan Arena Sosial. Bourdieu merumuskan konsep habitus sebagai analisis sosiologis dan filsafati atas perilaku manusia.

Habitus adalah nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia, dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia.

Sedangkan Modal menurut Bourdieu adalah sesuatu yang kita miliki, bisa modal ekonomis (uang), modal simbolik (citra diri, prestige, penghargaan dari orang lain), modal budaya (pendidikan, latar belakang keluarga, lingkungan), modal sosial (jaringan pertemanan). Sedangkan Arena Sosial adalah tempat di mana kita berada, dalam struktur sosial atau masyarakat.

Sebagai contoh yang saya alami sendiri. Sejak masih anak-anak, setiap hari paman saya di tahun 1970-an akhir sering mendengarkan musik-musik rock seperti Deep Purple, Led Zeppelin, God Bless, SAS, dan lain-lain. Hal itu berlangsung sangat lama sampai saya masuk SMA.

Dari situlah selera saya terhadap musik rock terbentuk karena habitus. Sedang modal sosial ikut menumbuhkan kesukaan saya pada musik rock. Terutama karena lingkungan sekitar saya kebanyakan juga menyukai musik rock sehingga membuat saya berteman akrab dengan mereka yang menyukai genre musik yang sama yaitu musik rock.

Pertanyaan lain yang menarik untuk dikupas adalah dari mana datangnya selera musik tinggi dan rendah? Dari mana datangnya stigmatisasi ini? Mengapa sekelompok orang yang menyukai musik tertentu dikatakan mempunyai selera musik yang tinggi? Sedang penyuka jenis musik tertentu dianggap berselera musik rendah?

Menurut Bourdieu, inilah apa yang dinamakan separasi dan pembedaan simbolik, yang dilakukan oleh kelas Dominan, kelas yang mempunyai semua modal di atas dan ingin memonopoli apresiasi seni termasuk musik.

Selera estetis sesungguhnya tidak semurni sebagaimana yang diandaikan Kant. Karena, selera adalah sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dalam ruang sejarah yang konkret.

Apa yang pantas dibaca, dilihat, diapresiasi bukan merujuk pada rasionalitas selera (selera) murni, dalam arti tanpa kepentingan, kosong konsep, dan tanpa tujuan, melainkan merupakan hasil tegangan dan perjuangan di dalam relasi seni dan strategi kekuasaan dalam rangka memonopoli apresiasi seni.

Menurut Bourdieu, dalam Arena Sosial ada kelas dominan, kelas borjuasi kecil dan kelas jelata. Kelas dominan inilah yang menghadirkan pengkategorian terhadap selera musik, tinggi dan rendah. Selera tinggi adalah sesuai selera musik yang disukainya.

Padahal semua musik itu tidak ada kelas-kelasnya, musik bisa dinikmati siapapun sesuai habitus yang dimilikinya. Pembagian kategori inilah yang menurut Bourdieu mempunyai akibat terjadinya kuasa simbolik dan kekerasan simbolik terhadap kelas jelata.

Kuasa simbolik adalah kuasa untuk mengubah dan menciptakan realitas, yakni mengubah dan menciptakannya sebagai sesuatu yang diakui, dikenali, dan juga sah, mekanisme kuasa simbolik ini melalui “doksa”.

Kuasa simbolik membuat orang melihat dan percaya, memperkuat atau mengubah cara pandang. Mekanismenya melalui apa yang disebut doksa yakni seperangkat kepercayaan fundamental yang bahkan dirasa tidak perlu dieksplisitkan, seakan suatu dogma.

Cara kerja doksa melalui bahasa. Doksa sering digunakan kelas dominan untuk membuat seolah-olah pandangan kelas dominan tersebut adalah pandangan seluruh masyarakat, sehingga masyarakat tidak lagi memiliki sikap kritis.

Doksa biasanya bersifat sloganistik, populer, dan mudah dicerna oleh masyarakat, karena cara kerjanya melalui bahasa. Maka dari itu, menurut Bourdieu, di dalam bahasa tersembunyi dominasi simbolik serta struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Dari kuasa simbolik yang mekanismenya melalui doksa ini, bisa terjadi kekerasan simbolik, dari kelas dominan dan kelas borjuasi kecil pada kelas jelata.

Kekerasan simbolik ini tak terlihat beda dengan kekerasan fisik. Ketika seseorang secara psikologis merasa rendah diri karena selera musiknya dianggap rendah dan berusaha meniru untuk menyukai selera musik yang dianggap tinggi padahal dia tak bisa menikmatinya, maka sesungguhnya dia sudah mengalami kekerasan simbolik.

Maka, nikmatilah musik sesuai dengan kesukaanmu! Musik rock, blues, klasik, jazz, dangdut, keroncong, pop, dangdut koplo, campur sari, gamelan, Kpop dan masih banyak lagi. Nikmatilah tanpa berpikir tentang selera tinggi atau rendah. Bergembiralah! Rayakan hidup dengan musik! (Penulis: Arif Gumantia, Ketua Majelis Sastra Madiun)