Kubu Brigadir J Kembali Polisikan Sambo & Istri Soal Laporan Palsu, Ini Alasannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Kuasa hukum mendiang Brigadir J atau atau Nofriansyah Yosua Hutabarat melaporkan Ferdy Sambo dan Istrinya, Putri Candrawathi ke kepolisian. Keduanya dilaporkan karena diduga membuat laporan palsu terkait tuduhan pelecehan seksual.

"Agenda hari ini kita mau bikin laporan polisi terkait dengan pembuatan laporan palsu kaitannya dengan Pasal 317, 318 KUHP Juncto Pasal 55, 56 KUHP," kata Kamaruddin Simanjuntak, selaku kuasa hukum keluarga Brigadir Jsaat ditemui awak media di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (26/8).

Adapun Pasal 317 KUHP berbunyi: Barangsiapa dengan sengaja memasukkan atau menyuruh menuliskan surat pengaduan atas pemberitahuan yang palsu kepada pembesar Negeri tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baik orang itu jadi tersinggung, maka dihukum karena mengadu dengan memfitnah, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.

Sedangkan Pasal 318 berbunyi: Barangsiapa dengan sengaja dengan melakukan sesuatu perbuatan, menyebabkan orang lain dengan palsu tersangka melakukan sesuatu perbuatan yang dapat dihukum, maka dihukum karena tuduhan memfitnah, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.

Alasan Melaporkan dengan Pasal 317 dan 318

Kamarudin menjelaskan alasan pihaknya menggunakan dua pasal tersebut untuk mempolisikan Sambo dan istrinya. Salah satunya karena laporan awal soal dugaan pelecehan serta percobaan pembunuhan yang dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, telah dihentikan atau SP-3 oleh Bareskrim Polri.

"Di mana Pak FS membuat laporan di Polres Jaksel tentang pengancaman pembunuhan atau penodongan. Demikian juga ibu PC membuat laporan polisi juga bahwa dia adalah korban pelecehan dan/atau kekerasan seksual," sebutnya.

Selaku kuasa hukum, dia merasa geram dan memutuskan melaporkan kembali Sambo maupun istrinya yang kerap merasa sebagai sebagai korban pelecehan seksual.

"Kedua laporan itu sudah di-SP 3 oleh Dirtipidum Polri, tetapi masih terus diulang-ulang bahwa mereka korban pelecehan seksual. Oke supaya ada kepastian hukum kita membuat laporan polisi sore ini," tuturnya.

Adapun barang bukti yang telah disiapkan Kamaruddin dalam laporan kali ini adalah surat kuasa dari pihak keluarga hingga bukti surat penghentian pengusutan perkara yang dilaporkan pihak Sambo.

"Barbuk pertama surat kuasa, yang kedua surat penghentian kedua perkara itu," sebutnya.

Seperti diketahui, pada akhirnya kepolisian menetapkan lima orang tersangka terkait kematian Brigadir J. Salah satunya adalah Putri. Penetapan tersangka seusai penyidik menemukan rekaman CCTV yang sempat dikabarkan hilang.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Adi Rian mengatakan, setidaknya sudah ada 52 orang diperiksa oleh Timsus dalam pembunuhan berencana Brigadir J. Bahkan, polisi berhasil menemukan CCTV yang menjadi kunci penetapan Putri Candrawathi sebagai tersangka.

"Alhamdulillah CCTV yang sangat vital menggambarkan situasi sebelum, sesaat dan setelah kejadian. Kami temukan dengan sejumlah tindakan penyidik dari hasil penyelidikan tersebut. Tadi malam sampai pagi sudah dilakukan sejumlah pemeriksaan tadi disampaikan bahwa ibu PC ditetapkan tersangka," jelas Andi Rian di Mabes Polri, Jumat (19/8).

Putri dijerat dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 juncto Pasal 56 KUHP. Pasal 340 mengatur pidana terkait pembunuhan berencana dengan ancaman pidana hukuman mati, pidana penjara seumur hidup, atau penjara 20 tahun.

Dengan demikian total ada lima tersangka pembunuhan Brigadir J. Empat tersangka lainnya, yakni Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Bripka Ricky Rizal atau Bripka RR, dan asisten rumah tangga Sambo Kuwat Maruf. [lia]