Kubu Demokrat KLB Tuding Bibit Radikalisme di Era Presiden SBY

Ezra Sihite, Anwar Sadat
·Bacaan 1 menit

VIVA – Juru bicara kubu Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Sibolangit atau kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad menyebut bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY telah menyebarkan sebuah berita tidak benar.

Dia mengatakan mereka telah memfitnah Moeldoko dengan menuduh Moeldoko "membeli" Partai Demokrat. Rahmad menyayangkan fitnah tersebut dan semestinya hal itu kata dia tidak perlu terjadi.

Rahmad juga menyebut, semasa jabatan SBY menjadi Presiden, paham radikal tumbuh subur dan seakan-akan mendapat tempat di Indonesia. Efek negatifnya menurut dia adalah yang terjadi sekarang yang mana menurut dia intoleran berkembang. Selain itu penyebaran hoaks merajalela, tuduhan dan fitnah menjadi mudah sekali terjadi.

"Yang kasihan adalah masyarakat luas yang disuguhi informasi yang menyesatkan. Ketika organisasi-organisasi radikal itu dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi, kami mendeteksi bahwa mereka mencari tempat berlindung di antara ke dalam Partai Demokrat," kata Rahmad kepada wartawan pada Senin 29 Maret 2021

Rahmad menambahkan, setidaknya kelompok radikal itu merasa nyaman dengan Partai Demokrat.

"Oleh karena itulah pak Moeldoko bersedia memimpin Partai Demokrat dengan segala rIsiko yang harus dihadapi. Demi masa depan demokrasi, demi masa depan Indonesia agar partai demokrat terhindar dari pengaruh-pengaruh radikal yang akan membahayakan masa depan bangsa dan negara," ujarnya.

Menurut Rahmad, dirinya saat ini melihat kelompok radikal mulai masuk ke Partai Demokrat yang dipimpin AHY.

"Jika paham radikal berlindung di dalam Partai Demokrat disebut omong kosong oleh pendukung SBY dan AHY, itu sah-sah saja. Silakan saja. Mereka tentu berusaha membela diri. Yang kita lihat adalah fakta sejarah di mana kelompok radikal saat ini berusaha mencari tempat berlindung dan kelihatannya kelompok radikal itu nyaman berada dibelakang bayang bayang SBY," ujarnya.