Kudeta demi kepentingan China, pakta perdagangan besar Asia segera ditandatangani

·Bacaan 3 menit

Hanoi (AFP) - Lima belas negara pada Minggu akan menandatangani kesepakatan perdagangan Asia yang mereka harapkan bakal membantu mereka bangkit kembali dari pandemi dan dianggap sebagai kudeta oleh China dalam dalam memperluas pengaruhnya.

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan (RCEP) yang mencakup 10 negara Asia Tenggara bersama dengan China, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Australia akan menjadi pakta perdagangan terbesar di dunia dalam ukuran PDB, kata para analis.

Kesepakatan untuk menurunkan tarif dan membuka perdagangan jasa di dalam blok itu tidak termasuk Amerika Serikat dan dianggap sebagai alternatif pimpinan China terhadap prakarsa perdagangan Washington yang kini sudah tidak berfungsi.

RCEP "memperkuat ambisi geopolitik regional China yang lebih luas di sekitar prakarsa Sabuk dan Jalan", kata Alexander Capri, pakar perdagangan pada National University of Singapore Business School, merujuk proyek investasi khas Beijing yang melukiskan infrastruktur dan pengaruh China yang merentang ke seluruh dunia.

"Ini semacam elemen pelengkap."

Perlu waktu delapan tahun untuk membentuknya, kesepakatan itu akhirnya akan ditandatangani pada akhir KTT Asia Tenggara - yang diadakan melalui video akibat pandemi.

Banyak penandatangan sedang berjuang melawan wabah maut virus corona dan mereka mengharapkan RCEP akan membantu mengurangi beban yang melumpuhkan akibat penyakit yang telah merusak perekonomian mereka.

Indonesia baru-baru ini jatuh ke dalam resesi pertama selama dua dekade, sedangkan perekonomian Filipina menyusut 11,5 persen per tahun pada triwulan terakhir.

"Covid telah mengingatkan kawasan ini mengapa perdagangan penting dan pemerintah lebih bersemangat dari sebelumnya untuk mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif," kata Deborah Elms, direktur eksekutif Asian Trade Centre, sebuah lembang konsultansi yang berbasis di Singapura.

"RCEP bisa membantu mewujudkan hal itu."

India tahun lalu menarik diri dari perjanjian itu karena mengkhawatirkan barang-barang murah China yang memasuki negara itu dan akan absen selama penandatanganan virtual Minggu.

Negara itu bisa bergabung di kemudian hari jika mau.

Bahkan tanpa India, kesepakatan itu sudah mencakup 2,1 miliar orang, dengan anggota RCEP menyumbang sekitar 30 persen dari total PDB global.

Yang terpenting, pakta ini harus membantu mengurangi biaya dan membuat hidup lebih mudah bagi perusahaan-perusahaan dengan membiarkan mereka mengekspor produk ke mana pun di dalam blok ini tanpa memenuhi persyaratan terpisah untuk setiap negara.

Perjanjian ini menyentuh kekayaan intelektual, tetapi perlindungan lingkungan dan hak tenaga kerja bukan bagian dari pakta ini.

Kesepakatan itu juga dipandang sebagai cara China dalam menyusun aturan perdagangan di kawasan itu setelah bertahun-tahun mundurnya AS di bawah Presiden Donald Trump yang telah membuat Washington menarik diri dari pakta perdagangannya sendiri, Kemitraan Trans-Pacific (TPP).

Meskipun perusahaan-perusahaan multinasional AS akan bisa menarik keuntungan dari RCEP melalui anak-anak perusahaan di negara-negara anggota, para analis mengatakan kesepakatan itu bisa menyebabkan Presiden terpilih Joe Biden memikirkan kembali keterlibatan Washington di wilayah ini.

Ini bisa membuat AS melihat manfaat potensial bergabung dengan kesepakatan penerus TPP, Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP), kata Rajiv Biswas, kepala ekonom APAC di IHS Markit.

"Namun demikian, ini diperkirakan tak akan langsung menjadi masalah prioritas ... mengingat tanggapan negatif yang cukup besar terhadap negosiasi TPP dari banyak segmen pemilih AS karena kekhawatiran jatuhnya lapangan AS ke negara-negara Asia," tambah dia.


burs-aph/pdw/rma/axn