"Kue Rayo" buatan industri rumahan Pekanbaru laris di tengah pandemi

Suryanto
·Bacaan 2 menit

Permintaan kue Lebaran buatan rumah di Kota Pekanbaru, yang kerap disebut warga setempat "kue rayo", mengalami peningkatan meski di tengah kondisi pandemi COVID-19.

"Pandemi ini sudah berlangsung sejak tahun 2020 lalu. Awalnya saya pikir ekonomi akan susah, berimbas ke permintaan kue. Tapi ternyata penjualan masih stabil, bahkan ada peningkatan," kata Reno Sari, pemilik usaha kue Lebaran Dapur Sachi di Kota Pekanbaru, Rabu.

Usaha kue rayo tersebut berawal dari hobi memasak Reno sejak enam tahun lalu. Dapur Sachi adalah salah satu dari pengusaha kue Lebaran musiman yang memasak dari dapur rumah, dan aktif setahun sekali guna memanfaatkan momen Idul Fitri. Usaha mikro ini tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Baca juga: Kahk el-Eid, kue Lebaran khas dari Mesir

Ia mengatakan permintaan kue rayo pada Lebaran tahun lalu justru meningkat, yakni dari biasanya berkisar 200 hingga 300 toples, menjadi 500 toples. Bisnis kue rumahan banyak mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.

"Untuk kue rumahan sebenarnya selain rasa dan kualitasnya, yang jadi faktor orang mau membeli adalah karena kemasannya yang menarik. Tahun lalu ketika saya mengganti pakai toples yang isinya lebih banyak, permintaan langsung meningkat," katanya.

<em>Sejumlah pekerja Dapur Shaci memasukan adonan kue untuk Idul Fitri 1442 H ke oven, di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (28/4/2021). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)</em>
Sejumlah pekerja Dapur Shaci memasukan adonan kue untuk Idul Fitri 1442 H ke oven, di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (28/4/2021). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)


Ia mengatakan hingga pekan kedua bulan Ramadhan ini sudah memproduksi 350 toples kue rayo. Targetnya Lebaran tahun ini bisa terjual hingga 500 toples.

"Sejauh ini kita sudah produksi 350 toples dan masih berlanjut. Target 500 (toples) ke atas," ujarnya.

Jenis kue yang paling laris adalah Crunchy Nestum, kemudian Nastar dan Almond Rokes. Salah satu kue rayo yang unik dari Dapur Sachi adalah Nastar yang tahan banting. Reno menunjukan kue mungil berisi nanas itu tetap utuh saat dibanting-banting ke loyang, namun di dalam tetap lembut.

Baca juga: Jelang lebaran kue kering tradisional Aceh jadi buruan

"Nastar ini tahan banting, tapi langsung lumer begitu di dalam mulut," katanya.

Ia mengatakan hanya menggunakan bahan baku terbaik kelas premium untuk membuat kue rayo. Karenanya, harga jualnya relatif lebih tinggi berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per toples. Meski begitu, permintaan kue rayo tersebut tetap tinggi sehingga ia bisa mempekerjakan empat orang sebagai asisten.

"Pembelinya mulai dari kawan-kawan sendiri di Pekanbaru dan kini juga sudah mulai bertambah konsumennya setelah kita mulai aktif promosi dengan media sosial instagram," kata Reno.

Baca juga: Tips membuat "cookies" Lebaran untuk penyandang diabetes

Baca juga: Aneka kue dan camilan Lebaran yang menimbulkan rasa nostalgia