Kumpul di Inggris, Peneliti dan Ahli Kesehatan Ungkap Vape Ampuh Kurangi Perokok

Liputan6.com, London - 65,19 juta orang Indonesia adalah perokok. Jumlah yang setara 34% dari total penduduk pada 2016 itu, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara.

Data itu berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang berjudul The Tobacco Control Atlas - Asean Region.

Perang terhadap rokok telah lama dilakukan hampir di semua negara. Salah satu yang sukses menekan jumlah perokok aktif adalah Inggris. Sekitar 50.000 hingga 70.000 perokok Inggris berhenti merokok setiap tahun karena beralih ke rokok elektrik atau vape. Menurut studi pada 2019 yang dilakukan para peneliti di University College London, mereka menganalisis kenaikan pengguna vape sejak 2011 dan mengaitkannya dengan pola penurunan perokok.

Alih-alih mengikuti jejak sukses Inggris, Indonesia memilih cara lain. Meski belum ditemukan kasus terkait dampak buruk bagi kesehatan pengguna vape di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan berencana melarang penggunaan rokok elektrik atau vaping di Indonesia.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, rencana larangan terhadap vape dilakukan karena, "WHO menyatakan tidak ada cukup bukti untuk menunjukkan rokok elektrik dapat digunakan sebagai terapi berhenti merokok."

Namun, bukti-bukti ilmiah berbeda terkait dampak vaping dipaparkan sejumlah peneliti dan ahli kesehatan yang berkumpul di London, Inggris dalam e-Cigarette Summit 2019. Dalam forum yang digelar pada Kamis 14 November itu, tercatat ada 22 peneliti dan ahli kesehatan yang menjadi pembicara dan memaparkan berbagai bukti ilmiah terkait lebih amannya vape dibanding rokok.

 

Hadiah Kesehatan yang Besar

Seorang pria menggunakan vape atau rokok elektronik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Pemerintah melalui BPOM mengusulkan pelarangan penggunaan rokok elektrik dan vape di Indonesia, salah satu usulannya melalui revisi PP Nomor 109 Tahun 2012. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Salah satunya adalah John Britton, profesor epidemiologi di Universitas Nottingham dan konsultan kedokteran pernapasan di Rumah Sakit Kota Nottingham. Dalam paparannya, ia mengungkapkan keberhasilan vaping sebagai terapi berhenti merokok di Inggris.

"Jika semua perokok di Inggris berhenti merokok dan mulai menggunakan rokok elektrik, kami akan menyelamatkan lima juta kematian pada orang yang hidup hari ini. Ini adalah hadiah kesehatan masyarakat potensial yang sangat besar," kata Britton di Royal College, London.

Kepala Action on Smoking and Health (ASH) Inggris Deborah Arnott menambahkan, berdasarkan hasil riset panjang, ASH menemukan fakta vape mampu mengurangi jumlah perokok di Inggris. Data ASH mengungkap, jumlah pengguna vape di Inggris pada 2019 telah mencapai 3,6 juta atau sekitar setengah dari jumlah perokok.

"Data juga menunjukkan sebagian besar pengguna vape adalah mantan perokok, dengan alasan utama untuk menggunakan rokok elektrik adalah untuk berhenti merokok. ASH telah memantau tren penggunaan vape di Inggris sejak 2012," ujar Arnott.

Jumlah pengguna vape di Inggris telah meningkat drastis dari 700 ribu orang pada 2012 menjadi 3,6 juta pada 2019. Dari jumlah itu, 54% pengguna vape telah berhenti merokok, 40% menjadi pengguna ganda rokok dan vape, serta hanya 6% saja yang vaping tapi tidak pernah merokok sebelumnya.

"Meskipun rokok elektrik sekarang merupakan bantuan berhenti merokok yang paling populer, survei kami menemukan bahwa pada 2019 lebih dari sepertiga perokok masih belum pernah coba vaping," kata Arnott.

Ia pun menyarakan perokok untuk mencoba vaping, karena "Rokok elektrik telah terbukti menjadi bantuan yang sangat efektif bagi perokok yang mencoba berhenti."

 

Larangan Vape Bukan Solusi

Seorang pria meneteskan cairan vape atau rokok elektronik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Pemerintah melalui BPOM mengusulkan pelarangan penggunaan rokok elektrik dan vape di Indonesia, salah satu usulannya melalui revisi PP Nomor 109 Tahun 2012. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Meski begitu, maraknya pemberitaan negatif tentang vape dan pelarangan rokok elektrik di sejumlah negara membuat ASH khawatir akan menimbulkan potensi kembali tingginya angka perokok konvensional.

"Penyakit akibat vaping di AS (Amerika Serikat) jelas memprihatinkan. Tetapi tampaknya terkait dengan penyalahgunaan rokok elektrik dengan menggunakan obat terlarang. Tidak ada yang seperti ini yang terlihat di Inggris sampai saat ini," jelas Arnott.

Sementara itu, peneliti senior dari Indonesia yang menjadi pembicara pertama dalam e-Cigarette Summit 2019 di London, Tikki Elka Pangestu menyatakan, vaping adalah cara relatif baru yang terbukti secara ilmiah jauh kurang bahayanya dari rokok yang dibakar dan bukti lain bisa membantu mereka yang mau berhenti merokok.

"Saya sebagai peneliti melihat bukti yang kuat dari Amerika, dari Inggris, dari berbagai negara lain bahwa vaping 95% lebih kurang bahayanya dari rokok yang dibakar dan bisa membantu mereka yang mau berhenti merokok. Kalau buktinya sudah kuat kenapa produk ini tidak diberikan kepada mereka yang mau berhenti merokok?" ujar Profesor Tamu di Lee Kuan Yew of Public Policy, National University of Singapore ini.

Sebagai ilmuan, ia mengaku telah memberikan bukti ilmiah yang begitu kuat terkait keamanan vaping kepada para pemangku kepentingan di Indonesia. Namun, upayanya itu tidak mendapat respons positif.

"Segala apa yang bisa membantu menurunkan bahaya rokok itu sepatutnya harus dipertimbangkan. Tapi sayangnya sekarang ini di Indonesia iklimnya masih agak anti. Saya sudah berusaha mendidik mereka yang anti, Kemenkes, BPOM, Komnas Pengendalian Tembakau, mereka selalu bilang kami tak yakin vaping ini tak ada bahayanya jadi kami tidak mau ambil risiko, dilarang saja," ungkap Tikki.

Saksikan video pilihan di bawah ini: