Kumpulan Contoh Cerita Pendek Anak yang Bisa Dibacakan pada si Kecil

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Cerita anak merupakan satu di antara karya sastra yang diperuntukan sebagai bacaan si kecil. Isi cerita anak disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual serta emosi si kecil.

Cerita anak adalah cerita sederhana yang kejadiannya tidak benar-benar terjadi. Biasanya cerita anak digunakan untuk membangun kedekatan (bonding) dengan si kecil karena cukup menghibur.

Tak sekadar sebagai hiburan saja, cerita anak dapat memberikan pendidikan moral kepada si kecil.

Di sisi lain, cerita anak bisa menjadi metode pembelajaran untuk si kecil dengan cara yang menyenangkan.

Ada banyak cerita anak yang bisa orang tua menceritakan kepada si kecil, baik ketika sedang waktunya bermain atau sebelum tidur malam.

Berikut ini rekomendasi cerita anak yang pendek, yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik, dilansir dari laman Saintif, Kamis (25/11/2021).

Pohon Kehidupan

Hiduplah seorang pria tua yang memiliki empat orang anak. Ia ingin anak-anaknya tidak menjadi manusia yang terlalu cepat menghakimi sesuatu. Untuk itu, ia mengirimkan mereka untuk melihat pohon pir yang berada jauh dari rumah mereka.

Masing-masing anak diminta pergi di musim berbeda, yakni musim dingin, semi, panas, dan gugur. Saat keempatnya kembali, sang ayah bertanya tentang apa yang mereka lihat.

Anak pertama mengatakan pohon itu terlihat jelek, gundul, dan bengkok terkena angin. Sebaliknya, anak kedua mengatakan pohon itu dipenuhi tunas dan terlihat menjanjikan. Lalu, anak ketiga mengatakan kalau pohon tersebut dipenuhi bunga-bunga yang wangi. Terakhir, anak keempat mengatakan kalau si pohon memiliki banyak buah yang terlihat nikmat.

Sang ayah menjelaskan kalau semua yang mereka lihat itu benar. Masing-masing dari mereka hanya melihat pohon itu dalam satu musim saja. Ia lalu berujar, kalau mereka tidak boleh menilai pohon, apalagi manusia, hanya dari satu sisi saja.

Cermin Ajaib

Alkisah, ada seorang raja bernama Granada yang sedang mencari istri. Ia pun menggelar sebuah sayembara. Barang siapa ingin menjadi istrinya, haruslah melihat ke dalam cermin ajaib yang mampu menunjukkan kebaikan dan keburukannya semasa hidup.

Para wanita yang awalnya bersemangat ingin menjadi ratu, langsung patah semangat mendengar persyaratan tersebut. Mereka khawatir dan malu kalau semua orang akan mengetahui borok-borok mereka.

Hanya ada satu wanita yang berani mengajukan diri. Ia adalah seorang penggembala yang datang dari keluarga menengah ke bawah. Bukan karena ia merasa tak pernah berbuat dosa. Namun, menurutnya, semua orang pasti pernah berbuat kesalahan. Selama mau memperbaiki diri, semuanya bisa dimaafkan.

Tanpa ragu dan takut, ia melihat ke dalam cermin tersebut. Setelah itu, raja mengatakan bahwa cermin itu sebenarnya hanyalah cermin biasa. Ia hanya ingin menguji kepercayaan diri para wanita yang ada di sana. Pada akhirnya, mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya.

Telur Emas

Alkisah, ada seekor angsa yang dapat mengeluarkan sebutir telur emas setiap hari. Angsa itu dimiliki seorang petani dan istrinya. Mereka bisa hidup nyaman dan berkecukupan berkat telur tersebut.

Kenyamanan ini berlangsung cukup lama. Namun, pada suatu hari, tiba-tiba saja terbersit ide di benak petani tersebut. "Kenapa aku harus mendapatkan satu telur per hari? Kenapa tidak kuambil semuanya sekaligus dan jadi kaya raya?" pikirnya.

Istrinya ternyata setuju dengan ide tersebut. Mereka pun menyembelih si angsa dan membelah perutnya. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat perut tersebut hanya berisi daging dan darah. Tak ada telur sama sekali, apalagi emas.

Mereka pun menangis sejadi-jadinya. Tak ada sumber penghasilan tetap yang bisa mereka andalkan lagi. Mereka harus bekerja keras untuk menyambung hidup esok hari.

Si Bodoh dan Keledai

Suatu hari, ada ayah dan anak yang berjalan kaki sambil menuntun keledainya menuju pasar. Mereka berpapasan dengan seorang pria yang berkata, "Dasar bodoh, ada keledai mengapa kalian malah jalan kaki?" Jadilah ayah itu meminta anaknya untuk menaiki keledai. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Tak lama, mereka kembali bertemu pria lain. Kali ini pria tersebut berkomentar, "Dasar anak muda pemalas. Kenapa ia enak-enakan naik keledai sementara ayahnya dibiarkan berjalan kaki?" Akhirnya, sang ayah meminta anaknya turun. Giliran ia yang naik keledai sementara anaknya berjalan kaki.

Belum jauh, mereka bertemu dengan sekelompok wanita yang berbisik satu sama lain, "Kasihan sekali anak itu. Ayahnya naik keledai sementara ia harus berjalan kaki". Bingung harus bagaimana, akhirnya sang ayah mengajak anaknya untuk ikut menunggangi hewan peliharaannya.

Lagi-lagi, mereka bertemu penduduk setempat yang mencemooh, "Apakah kalian berdua tidak malu membuat keledai malang itu menanggung badan kalian yang besar?" Ayah dan anak itu pun turun. Setelah berpikir keras, akhirnya mereka memutuskan mengikat kaki keledai ke tiang. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan sambil memanggul tiang dan keledai tersebut.

Orang-orang yang berpapasan pun tertawa melihat kebodohan mereka. Sampai di sebuah jembatan, salah satu ikatan kaki keledai terlepas dan membuatnya berontak. Sayang, si keledai malah jatuh ke sungai dan akhirnya tenggelam. Ayah dan anak itu pun kehilangan keledai mereka selama-lamanya.

Sumber: saintif.com

Dapatkan artikel contoh dari berbagai tema lain dengan mengeklik tautan ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel