Kumpulan Hoaks Seputar Vaksin Covid-19, Simak Faktanya

·Bacaan 3 menit
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Informasi hoaks seputar vaksin Covid-19 menimbulkan beragam reaksi, salah satunya kekhawatiran terhadap upaya meningkatkan kekebalan tubuh dari penularan penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 tersebut.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar vaksin Covid-19, hasilnya sebagian informasi terbukti hoaks.

Berikut kumpulan hoaks seputar vaksin Covid-19:

1. CDC Rilis Data 7 dari 10 Warga AS Enggan Divaksin Covid-19

Beredar di media sosial postingan yang mengklaim Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merilis survei yang menyebut 7 dari 10 warga AS enggan divaksin covid-19. Postingan ini banyak menyebar sejak akhir bulan lalu.

Salah satu akun yang mempostingnya bernama Dari Yordanova. Ia mengunggahnya di Facebook pada 24 Mei 2021.

Dalam postingannya terdapat narasi:

"Turns out CDC quietly released data showing that 7 out of 10 Americans are declining the experimental gene therapy. While the world is trying to convince you you’re on the fringe of humanity you’re actually in the majority."

atau dalam Bahasa Indonesia:

"Ternyata CDC diam-diam merilis data yang menunjukkan bahwa 7 dari 10 orang Amerika menolak terapi gen eksperimental. Sementara dunia mencoba meyakinkan Anda bahwa Anda berada di pinggiran kemanusiaan, Anda sebenarnya adalah mayoritas."

Lalu benarkah postingan yang mengklaim CDC merilis data yang menyebut 7 dari 10 warga AS enggan divaksin covid-19? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, postingan yang mengklaim CDC merilis data yang menyebut 7 dari 10 warga AS enggan divaksin covid-19 adalah tidak benar.

2. Darah dari Pendonor yang Sudah Divaksin Covid-19 Berbahaya

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim darah dari pendonor yang sudah divaksin Covid-19 berbahaya.Klaim tersebut berupa video yang diunggah akun Facebook Secreet Society, pada 24 Mei 2021.

Unggahan klaim darah dari pendonor yang sudah divaksin Covid-19 berbahaya tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"BAHAYA DONOR DARAH DARI ORANG YANG SUDAH DI VAKSIN"

Video tersebut menayangkan sel darah, botol vaksin dan seorang yang sedang melakukan transfusi darah yang diiringi dengan narasi dalam bahasa Inggris dan terdapat terjemahan sebagai berikut:

"Perhatikan dengan seksama poin-poin yang akan saya tampilkan,transfusi darah sangat penting dan menyelamatkan nyawa, akan tetapi penggunaan vaksin Covid-19 yang tersebar luas menimbulkan pertanyaan besar. Dara orang yang sudah divaksin donor darah dari yang sudah divaksin apakah aman jika penerima donor dara dari orang yang telah disuntik vaksin Covid-19?.

Bisakah kita meminta donor darah hanya dari orang yang belum divaksin, sebagai langkah pencegahan? Tampaknya tidak ada orang yang membicarakan tentang hal ini secara publik tentang isu ini. Untuk ini kami memutuskan untuk menelusuri pendapat website Transfusi Dari berbagai negara.

Tidak ada satupun penelitian yang menguji tingkat keamanan pendonoran darah dari yang sudah divaksin kepada yang belum, seperti kita ketahui bersama, terdapat banyak efek samping dari vaksin Covid-19 ribuan orang telah mati dan jutaan kasus dampak buruk akibat vaksin ini.

Vaksin mRNA terbuat dari Protein Spike virus. Yang dapat menyebabkan resiko kesehatan serius seperti timbulnya penyakit auto-imun. Reaksi antibodi & protein darah bisa mengganggu sistem koagulasi darah dan menyebabkan penyumbatan dara yang sudah didokumentasikan dengan baik oleh VAERS.

Bagaimana jika seorang membutuhkan lima kantung darah di ruangan gawat darurat? Implikasi kesehatan apa yang akan terjadi saat menerima kantong dara daro orang yang sudah divaksin?

Belum ada studi tingkat keamanan yang cukup untuk isu ini? Orang yang sudah divaksin masih diizinkan untuk mendonorkan darahnya, padahal kandungan di dalam vaksin bisa menimbulkan raksi yang mengancam nyawa seseorang, bisa dengan mudahnya mencemari darah si penerima, mungkin saat ini anda belum membutuhkan dono darah, tapi siapa tahu nantinya.

Mohon sebarkan video ini & sampaikan pesan kepada otoritas kesehatan di daerah anda.

Untuk menolak donor darah dari orang yang sudah divaksin Covid-19.Semua vaksin Covid-19 masih dalam tahap fase uji coba. Oleh karena itu donor darah dari orang yang sedang dijadikan objek eksperimen, sangatlah tidak etis & terlarang.

Jadi apakah layak untuk menerima donor dara dari mereka yang barus sjaa divaksin?"

Benarkah klaim darah dari pendonor yang sudah divaksin Covid-19 berbahaya? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim darah dari pendonor yang sudah divaksin Covid-19 berbahaya tidak benar.

Darah pendonor yang sudah divaksin Covid-19 tidak akan merusak antibodi penggunanya, sehingga orang yang sudah divaksinasi tetap dapat mendonorkan darahnya seperti biasa.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Berikutnya

3. Uji Coba Vaksin Covid-19 Diterapkan ke Manusia Setelah Membuat Hewan Mati

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim uji coba vaksin Covid-19 diterapkan kemanusia setelah membuat hewan mati. Klaim tersebut beredar melalui aplikasi percakapan WhatsApp.

Klaim uji coba vaksin Covid-19 diterapkan ke manusia setelah membuat hewan mati berupa video yang diklaim menampilkan sidang majelis Texas.

Video tersebut menampilkan seorang yang duduk menghadap sejumlah orang, pada video tersebut terdapat tulisan " SEMUA HEWAN MATI AKIBAT UJI COBA VAKSIN COVID SEKARANG MEREKA MENERAPKAN KE MANUSIA".Orang dalam video tersebut menggunakan bahasa asing.

Benarkah klaim uji coba vaksin Covid-19 diterapkan ke manusia setelah membuat hewan mati? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim uji coba vaksin Covid-19 diterapkan kemanusia setelah membuat hewan mati tidak benar.

Vaksin yang diuji selama uji praklinis tidak menyebabkan hewan mati, juga tidak berhenti karena hewan mati.

4. Orang yang Sudah Divaksin Covid-19 Akan Mati Dalam 2 Tahun

Beredar melalui aplikasi percakapan pesan berantai yang berisi klaim terkait orang yang akan meninggal dunia dalam dua tahun setelah divaksin covid-19. Pesan bBeredar melalui aplikasi percakapan pesan berantai yang berisi klaim terkait orang yang akan meninggal dunia dalam dua tahun setelah divaksin covid-19erantai tersebut beredar sejak awal bulan lalu.

Dalam pesan berantai yang beredar klaim ini disampaikan oleh Mike Yeadon, bekas Ketua Saintis di firma vaksin Pfizer. Berikut isi klaim dalam pesan berantai tersebut selengkapnya:

"YANG SUDAH DIVAKSIN SIAP2 MATI DINI

Mike Yeadon bekas ketua saintis di firma vaksin pFizer menyatakan bahwa kini sudah amat terlambat untuk menyelamatkan siapa yang sudah divaksin covid 19.

Beliau menyeru kepada semua yang belum menerima vaksin yang bisa membunuh itu untuk berjuang demi kesinambungan manusia dan nyawa anak2.

Pakar imunisasi terkenal ini mengingatkan fakta bhw proses menurunkan jumlah besar manusia yang hidup pada masa kini.

Sejurus selepas suntikan vaksin pertama terdapat sejumlah 0.8% akan mati dalam masa 2 minggu.

Mereka yang bertahan dijangka akan mampu bertahan hidup sekitar 2 tahun, namun kemampuan tersebut dikurangi dengan penambahan top-up suntikan vaksin.

Penambahan vaksin yang sedang dibuat sekarang adalah untuk menyebabkan kemorosotan fungsi organ tertentu dalam badan manusia - termasuklah jantung, paru-paru dan otak.

Dengan menyadari secara mendalam hasil penyelidikan dan pembangunan farmaseutikal gergasi tersebut, pFizer selama 2 dekade, Profesor Mike Yeadon menyatakan tujuan terakhir pemerintah enyediakan vaksin yang diwajibkan pada masa kini hanya menyebabkan pengurangan populasi secara besar-besaran yang mana akan membuat semua perang dunia, bila digabungkan, kelihatan satu produksi Mickey Mouse.

"Milyaran manusia kini sudah dibawa kearah kematian yang tidak diketahui dan menyengsarakan.

Setiap orang yang sudah disuntik akan menemui kematian sebelum waktunya, dan perkiraannya paling masa paling lama sesorang bertahan hidup selama 3 tahun".

SELENGKAPNYA BACA DISINI :

https://www.lifesitenews.com/news/exclusive-former-pfizer-vp-your-government-is-lying-to-you-in-a-way-that-could-lead-to-your-death"

Lalu benarkah klaim yang menyebut orang yang sudah divaksin covid-19 akan menghadapi kematian pada dua tahun mendatang? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim yang menyebut orang yang sudah divaksin covid-19 akan menghadapui kematian pada dua tahun mendatang adalah tidak benar.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Simak Video Pilihan Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel