KUPS Maju Lestari, jatuh bangun kembangkan produk di tengah pandemi

Jejeran 10 tungku besar berwarna cokelat berdiri tidak jauh dari Hutan Desa Jajaran Baru I di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Hanya dua tungku yang tampak baru digunakan dalam beberapa waktu terakhir untuk memproduksi arang, sisanya sudah lama tidak digunakan ditandai dengan jaring laba-laba terbentuk di dalam beberapa tungku.

Pemandangan itu merupakan salah satu dampak dari pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia dengan tungku-tungku itu sebelumnya digunakan oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Maju Lestari untuk memenuhi pesanan arang yang menjadi salah satu fokus usaha kelompok tersebut.

Ketua KUPS Maju Lestari Suyoto menceritakan bahwa sebelum pandemi COVID-19 sekitar 15 orang anggota kelompok itu giat terlibat dalam proses pembuatan arang yang hasilnya telah berhasil dijual tidak hanya di sekitar Kabupaten Musi Rawas tapi sampai keluar provinsi.

Namun, COVID-19 yang membuat akses mobilitas terbatas dan berdampak besar kepada ekonomi masyarakat mengakibatkan pesanan kemudian menurun dan akhirnya produksi arang KUPS Maju Lestari sempat terhenti selama beberapa saat.

Dia mengatakan bahwa usaha KUPS untuk bergerak di bidang produksi arang ditandai dengan pembentukan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Jajaran Baru I yang dimulai pada 2012 dan kemudian terbentuknya KUPS Maju Lestari pada 2015.

Setelah itu, KUPS Maju Lestari kemudian pada 2019 mengajukan bantuan lewat Kesatuan Pengelolaan Kehutanan (KPH) Lakitan Bukit Cogong untuk menambah lima tungku dari yang sebelumnya mereka miliki lewat program Forest Investment Program 2 (FIP 2) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Latar belakang KUPS Maju Lestari tertarik memulai usaha arang ketika Suyoto mengikuti pelatihan tentang arang yang dilakukan pusat penelitian dan pengembangan (Puslitbang) setempat.

"Dari sana saya tertarik karena baru sadar bahwa lingkungan sekitar kita itu masih banyak limbah-limbah yang bisa kita manfaatkan," katanya ketika ditemui di Desa Jajaran Baru I, Sumsel pada Rabu (27/7) 2022.

Tidak hanya itu, bahan baku pembuatan arang dari batang kayu pohon karet juga banyak ditemukan di wilayah tersebut, yang kebanyakan masyarakatnya berprofesi sebagai petani karet dan padi.

Dengan bantuan yang diberikan dari FIP 2 itu kemudian KUPS Maju Lestari, yang anggotanya kebanyakan petani, kemudian memulai usaha mereka yang dijual Rp70 ribu untuk satu karung besar arang dan Rp50 ribu untuk karung berukuran sedang.

Rata-rata dalam satu kali siklus pembuatan arang, yang menghabiskan kurang lebih 15 hari, produksi per tungku dapat menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu.

Setiap tungku sendiri dapat menghasilkan sekitar 1,2 ton arang dari bahan kayu karet sebesar 3,5 ton. Kebanyakan bahan baku sendiri didapat dari praktik peremajaan pohon karet, dengan biasanya limbah-limbah kayu tersebut hanya dibuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut.

Penjualannya memuaskan. Pesanan datang tidak hanya dari sekitar Kabupaten Musi Rawas dan wilayah sekitarnya seperti Kota Lubuklinggau, tapi bahkan dari provinsi tetangga seperti Lampung.

Keberhasilan mereka kemudian didengar oleh petani lain dan bahkan banyak yang datang ke rumah Suyoto untuk belajar produksi arang.

"Bahkan saat panen datang itu satu truk besar. Makanya sampai teman-teman ikut-ikut ke sini, ikut belajar sampai repot saya tidak bisa motong karena ditunggu orang," kata Suyoto.

Saat pandemi datang, pesanan kemudian mengalami penurunan akibat kegiatan masyarakat dibatasi, warung dan restoran berukuran kecil hingga sedang yang sering menjadi pelanggan KUPS Maju Lestari juga banyak yang tutup.

Namun, setelah kegiatan pelonggaran telah dilakukan dan masyarakat kembali melakukan aktivitas sekitar akhir 2021, Pesanan kembali berdatangan yang berasal dari wilayah sekitar Kabupaten Musi Rawas.

"Dengan keuletan dan ketelatenan itu saya mengenalkan produk arangnya sudah dikenal oleh warga yang terutama warung-warung kecil di (Kecamatan) Megang Sakti dan (Kota) Lubuklinggau. Alhamdulillah, sampai sekarang sudah ada permintaan per bulannya sekitar dua ton itu pasti," kata Suyoto, yang merupakan salah satu individu pertama yang membuka desa itu.

Ketika ada hari besar seperti Lebaran dan Tahun Baru, pesanan arang yang diterima KUPS Maju Jaya kemudian bertambah secara signifikan. Dengan tiga sampai empat tungku dapat digunakan untuk memenuhi pesanan.


Usaha perluasan

Di tengah mulai bergeliatnya kembali ekonomi, aktivitas KUPS Maju Lestari yang sempat lesu kini mulai bangkit.

Fasilitator Lokal FIP 2 KPH Lakitan Bukit Cogong Imam Muchtarom ketika ditemui saat pendampingan di hari yang sama mengatakan sebelumnya pemasaran yang mereka lakukan sudah berhasil sampai ke luar kota, bahkan luar provinsi.

Namun, pandemi membuat kelompok tani itu kesulitan untuk melakukan pemasaran dan sempat terhenti. Tapi dengan kini ramainya aktivitas masyarakat, satu persatu anggota kelompok kembali beraktivitas untuk memenuhi pesanan lokal.

"Alhamdulillah saat ini walau produksinya kecil hanya dua sampai tiga tungku per sekali produksi tapi untuk harga itu bisa bersaing dibandingkan di luar kota," kata Imam.

Namun, dia mengakui bahwa masih terdapat beberapa isu yang dihadapi untuk memperluas jangkauan usaha KUPS Maju Lestari agar dapat mencapai pasar yang lebih besar. Salah satunya adalah isu klasik belum maksimalnya upaya promosi dan yang lain adalah persaingan bisnis.

Menurutnya KUPS Maju Lestari berusaha menjaga kualitas arang yang dihasilkan dengan memastikan tingkat kekeringan arang yang sesuai. Untuk memastikan tingkat kadar air yang tepat dibutuhkan proses yang lebih memakan waktu.

Sementara itu di kelompok lain kurang memperhatikan terkait kadar air yang terdapat dalam arang dapat memproduksi dengan waktu lebih cepat. Hal itu dapat merusak pasaran, kata Imam.

Faktor tersebut menjadikan kelompok di Desa Jajaran Baru I masih belum dapat mengimbangi dalam masalah kecepatan produksi.

Tapi dia memastikan berbagai inovasi kini sedang coba dilakukan pihak KUPS Maju Lestari dengan dukungan KPH Lakitan Bukit Cogong demi memastikan adanya diversifikasi produk kelompok termasuk membuat briket dan asap cair.

Suyoto mengatakan berbagai langkah diversifikasi itu dilakukan oleh KUPS, yang memiliki anggota aktif 15 orang, harapannya untuk dapat memberikan nilai tambah terhadap produk mereka.

Dia berharap dengan usaha mereka tersebut mendapatkan dukungan dari pihak KPH Lakitan Bukit Cogong dan berbagai instansi lain yang bisa mendorong perkembangan kelompok mereka.

Pendampingan dan masukan yang terbaik itu diharapkan dapat membantu menyejahterakan para masyarakat lokal yang memanfaatkan hutan secara lestari.

Baca juga: 70 juta dolar tersedia untuk hutan lestari

Baca juga: Transformasi Aliansyah, bekas pembalak jadi pengelola hutan lestari

Baca juga: Teten fokus kembangkan model bisnis perhutanan sosial melalui koperasi

Baca juga: Kemenhut: Sesaot Jadi Ikon Pengembangan Pengelolaan HKm

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel