Kurban di pedalaman NTT bisa via online

Yayasan Insan Bumi Mandiri menyelenggarakan kurban yang didistribusikan ke pedalaman Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui laman kurban.insanbumimandiri.org.

"Di tengah ketakutan masyarakat tentang PMK, Kurban di Pedalaman jadi pilihan aman. Selain karena pemerintah setempat sudah mengeluarkan regulasi untuk menjaga keamanan hewan ternak di NTT, setiap tahun hewan yang hendak dikurbankan juga selalu diperiksa terlebih dahulu," kata Zulfa Faizah, ketua yayasan Insan Bumi Mandiri dalam keterangannya pada Selasa.

Zulfa juga menuturkan harapannya agar program ini bisa memutar roda ekonomi warga, "jadi kita membeli dari warga, untuk warga."

Tahun lalu, pelayaran kurban di pedalaman memberdayakan 111 peternak lokal di 12 wilayah di NTT (Alor, Sumba, Lembata, Manggarai Barat, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Ngada, Sikka, Flores Timur, Malaka, Ende, dan Belu).

Em Abdullah, warga lokal Kabupaten Belu, NTT mengatakan biasanya hanya menjual 1 satu atau dua kambing saja per bulan.

"Tapi, sejak adanya program ini sampai ke desa kita, peternak-peternak lokal macam kami bisa jual sampai 10 ekor kambing bahkan lebih. Masyarakat sini juga yang tidak pernah dapat daging kurban, sekarang bisa menikmati lezatnya daging kurban," kata Em Abdullah.

Tahun ini, Insan Bumi Mandiri menargetkan pelayanan kurban di pedalaman NTT mencapai 6.000 hewan sehingga semakin banyak peternak kecil yang bisa berdaya.

Insan Bumi Mandiri memberikan laporan yang real time dilengkapi dengan laporan video. Sehingga pekurban yakin bahwa hewannya aman dan tidak tertukar.

Ketua Yayasan Insan Bumi Mandiri menambahkan bahwa laporan dikirim pada pekurban paling lambat 14 hari setelah Idul Adha. Hal tersebut, diungkapnya, sebagai komitmen yayasan yang mengusung kurban online yang amanah.

Memasuki tahun ke-7, Kurban di pedalaman konsisten dengan nilai pemberdayaan peternak kecil di pedalaman. Apalagi di tengah ketakutan dan kekhawatiran masyarakat terhadap PMK yang mewabah di hewan ternak.

Di pedalaman NTT, distribusi daging kurban dirasa tidak merata. Selain karena jauhnya jarak antar pulau dan keterbatasan akses, kesulitan ekonomi mayoritas warga juga menyebabkan rendahnya daya beli hewan kurban. Sehingga tak seperti kebanyakan peternak di kota, peternak-peternak lokal NTT tak bisa merasakan suka-cita Idul Adha.

Sejak tahun pertama, Kurban di Pedalaman berkomitmen untuk turut memberdayakan peternak kecil di NTT.

Baca juga: Aplikasi, "e-commerce" dan dompet digital penyedia kurban online

Baca juga: Aplikasi umma buat program kurban digital, mulai Rp1,4 juta

Baca juga: BAZNAS hadirkan aplikasi "Cinta Zakat"

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel